Sunday, February 18, 2007
Setelah beberapa waktu kemarin, bulan konsolidasi, sudah saatnya kembali menapaki marhalah berikutnya. jangan terlalu berleha-leha sehingga aktifitas dakwah terhenti dan terlambat dalam menapaki marhalah yang seharusnya dicapai.
Kalau saya membagi aktifitas dakwah kampus dalam setahun itu ada beberapa marhalah yang disesuaikan dengan kondisi kampus. Marhalah konsolidasi, bulan dimana para ADK mengadakan agenda besar konsolidasi dalam mengevaluasi kinerja LDK tiap tahunnya. Yang sering kita sebut musang/muktamar/rapat anggota. marhalah kedua yaitu marhalah pembinaan dan pelayanan, dimana LDK mempersiapkan kembali perangkat pembinaannya yang bisa jadi terhenti sesaat ketika pelaksanaan konsolidasi. Pada marhalah ini ADK dikembalikan kembali/dihidupkan kembali pembinaannya yang bisa jadi terlalikan. serta pelayanan pelayanan berupa kegiatan keislaman. marhalah ketiga yaitu marhalah penokohan. Dimana ADK ditokohkan dalam ranah-ranah ammah, ADK dikenal sama publik. Agar jangan sampai kesan obyek dakwah kita para ADK orang yang ekslusif alias tertutup. Marhalah selanjutnya yaitu marhalah perekrutan. Dimana pada bulan bulan ini konsentrasi penuh pada perekrutan kader dakwah. Setiap agenda apapun dan kapanpun harus ber misikan merekrut dan merekrut. marhalah yang terakhir adalah marhalah evaluasi. tiap langkah demi langkah perlua ada evaluasi untuk perbaikan. Jangan sampai aktifitas dakwah yang dilakukan tanpa adanya evaluasi, tanpa adanya evaluasi kita tidak tahu berapa kekuatan dan kelemahan kita.
saatnya mengatur langkah untuk merekonstruksi kembali langkah-langkah dakwah kampus. sudah saatnya ...
[IA]
Sunday, January 28, 2007
Aku Ada Apanya
oleh : ibnu affan eljawas
Inilah Aku
Banyak orang yang beranggapan bahwa aku adalah orang yang senantiasa ceria, murah senyum, tanpa masalah, dan orang yang pinter bikin banyolan. Itulah aku, menurut pandangan orang. Sebenarnya tidak sesederhana itu, aku sendiri juga tidak terlalu memahami tentang diriku. Semua ini bermula ketika aku mulai beranjak kuliah. Dulu yang aku tahu, diriku itu pendiam, tidak suka bercanda, amat serius, suka main kerumah temen, dan masih banyak lagi.
Tidak ada yang begitu memahami diriku selain aku sendiri. Semua yang ada padaku – menurut persepsi temen – bisa jadi untuk menutupi segala kekurangan yang ada pada diriku. Aku bukan orang istimewa, aku adalah orang yang biasa-biasa saja. Dan inilah yang aku inginkan, menjadi orang yang biasa. Biasa ngaji, biasa dakwah, biasa silaturahmi, biasa menasehati, biasa menyebarkan salam, biasa menolong orang, dan biasa yang lain-lainnya. Semoga . . .
Awalku mengenal Tarbiyah
Seperti yang aku ungkapkan diatas, memang bermula dari kampus. Aku mengenal tarbiyah ini di kampus. Mulai dari kajian kos-kosan, ikut KAMMI, ikut UKI (SALAM). Semua bermula dari situ. Materi pertama darussabab (Peranan pemuda) disebuah ruang tamu empat kali empat bersama beberapa orang yang baru masuk kos. Memang awalnya tidak tahu, yang aku tahu hanya kajian rutin dalam pembinaan generasi muda, aku ikuti terus, dan akupun enjoy disitu.Aktivis Dakwah
Banyak orang yang mengklaim mahasiswa yang berkecimpung di organisasi dengan asas islam dan menyebarkan nilai-nilai islam sebagai aktivis dakwah. Maka akupun terklaim juga sebagai aktivis dakwah. Karena aku masuk dalam organisasi itu. Dan disini adalah karir dakwah kampusku dimulai.Banyak kenangan yang bisa aku dapatkan disana, bersama saudara seiman mengarungi perjalanan dengan bendera islam. Sungguh sangat luar biasa kenangan itu. Bikin kegiatan, nyari donatur, bikin usaha, bermanis-manis sama mahasiswa baru, nyari base camp, dan seterusnya.
Dari dauroh satu ke dauroh yang lain. semua punya tujuan yang sama, agar islam tegak kembali dimuka bumi ini. Akupun ikut mengalir bersama derasnya arus dakwah kampus. Baik organisasi internal maupun eksternal kampus.
Disini aku mulai belajar mengenal diriku dan lingkunganku. Memang semua terasa mengalir begitu saja, hingga sampai saat ini, terasa, entah ada sesuatu yang belum sempurna dalam setiap amanah itu. Masih banyak yang seharusnya kudapatkan, belum aku dapatkan. Dan semua sudah berlalu, tinggal kenangan. Dan semoga sedikit pelajaran tentang dakwah kampus itu, menjadi bekal buatku mewarnai keluarga dan masyarakat disekitar rumahku kelak.
Mimpi – mimpiku
Mimpi hari ini adalah kenyataan hari esuk, begitu kata-kata indah yang sering terdengar dalam telingaku. Sebuah ungkapan yang menurutku mengisaratkan bahwa manusia hendaklah mempunyai harapan, cita-cita, dan keinginan. Dan itu semua haruslah dimunculkan sedini mungkin. Dan yang pasti harus optimis akan terealisasikannya harapan, cita-cita, serta keinginan tersebut. Sudah barang tentu dengan usaha untuk mewujudkannya serta diiringan dengan do’a.
Ada beberapa mimpi yang hendaknya aku tuangkan didalam tulisan ini. Setiap orang pasti punya mimpi yang berbeda-beda, kalaupun ada keinginan maupun kejadian yang sama dengan orang lain, itu adalah sebuah kebetulan semata. Bukan bermaksud menyamakan keinginan, harapan, cita-cita, bisa jadi memang sudah punya keinginan, harapan serta cita-cita yang sama.
1. Membangun kerajaan kecil
Banyak orang mengatakan bahwa kampus merupakan miniatur suatu negara. Dikampus kita dilatih untuk bergaul dengan berbagai bentuk, macam, sifat manusia, yang mempunyai berbagai kekhasan yang berbeda beda. Dan kita dituntut untuk menghadapi itu semua. Seiring dengan berjalannya waktu, maka mau tidak mau batas kita untuk berlatih disana sudah habis, masih banyak yang sudah ngantri ingin berlatih juga. Dan kita sudah dianggap siap untuk mandiri. Sudah siap untuk menghadapi kehidupan diluar kampus.
Sudah saatnya memimpin kerajaan sendiri. Disana kita bisa mengatur sesuka hati, tunjuk sana tunjuk sini, panggil sana panggil sini. Kerajaan kecil yang bisa jadi tanpa bekal sama sekali. Tapi setidaknya kita sudah mempunyai kerajaan sendiri. Disana akan ada permaisuri yang akan senantiasa mendampingi dalam mengatur kerajaan kecil tersebut. Ya . . permaisuri. Punya peranan yang sangat penting untuk mensukseskan tegak berdirinya kerajaan itu. Dari rahim permaisuri akan lahir jundi-jundi yang akan siap menggantikan diri ini yang sudah uzur, sudah tidak produktif lagi, sudah tidak mampu untuk mengatasi kemauan rakyatnya. Harus ada regenerasi.
2. Back to masjid kampung
Sudah menjadi kepastian dalam kehidupan bermasyarakat, bila ingin dekat dengan umat maka mendekatlah kemasjid. Bagaimana mungkin kita akan menyerukan islam agar dihunjamkan dalam dada umat sementara kita tidak pernah kemasjid. Sungguh hal yang mustahil. Karena dimulai dari masjid itu kita bisa melakukan perbaikan yang ada dalam diri umat – kalau ada yang perlu diperbaiki.
Seperti yang pernah dilakukan Rasulullah, sewaktu tiba dimadinah, langkah awal yang beliau lakukan adalah mendirikan masjid, yang digunakan sebagai pusat kegiatan dalam mensyiarkan islam. Begitu juga masjid yang ada disamping rumah kita, punya peluang yang sama seperti apa yang dilakukan oleh Rasulullah.
3. Jadi da’i sebelum yang lain
Pada suatu saat murobbiku dalam menyampaikan materi pernah mengatakan, ”jadilah da’i sebelum menjadi yang lain”. Disana dijelaaskan bahwa setiap aktifitas kita adalah sebagai da’i, apapun pekerjaan kita. Menjadikan aktifitas seorang da’i lebih utama dan pertama. Sebagi da’i yang menjadi guru, da’i yang menjadi pengusaha, da’i yang menjadi dokter. Bukan sebaliknya, guru yang menjadi da’i dan seterusnya. Kalau seperti itu yang kita lakukan maka aktifitas dakwah hanyalah menjadi aktifitas sisa, aktifitas dakwah hanya menjadi pengisi waktu luang saja. Kalau sempat dakwah, kalau nggak sempat, nanti saja.
Setiap orang pasti mempunyai mimpi masing-masing. Dan inilah mimpiku, harapanku, cita-citaku serta keinginanku. Entah akan terealisasi kapan. Semoga Allah Ta’ala segera merealisasikan apa yang aku mimpikan. Dan aku yakin suatu saat nanti semua ini akan menjadi kenyataan. Suatu saat nanti . . . Selama Allah tidak menarik kenikmatan terbesar dalam diri ini, yang berupa kenikmatan iman dan kenikmatan islam.
Wallahu a’lam bish-shawab. [IA]
Tulisan ini dibuat sebagai prasyarat mengikuti Dauroh Tarqiyah pada 21 Ramadhan 1427 H.
Saturday, May 20, 2006
harokah dakwah
Sudah semestinya, salam fapet melihat kembali kebawah. selama ini apakah ada yang terlupak terkait dengan aktifitas dakwah. bisa jadi para aktifisnya sudah melalaikan apa yang menjadi khitoh perjuangan. perlu ada pemahaman manhaj. jangan sampai aktifitas yang dilakukan tidak ada ruh. terasa hampa.
Hendaklah sebuah harokah dakwah mampu memberikan kontribusi yang riil buat masyarakat kampus. selain itu juga haruslah didukung oleh kader yang berkualitas. ini yang menjadikan proses kaderisasi sangat, sangat penting sekali.
Kaderisasi hendaknya mampu mensiapkan kader salam menjadi kader yang mempunyai berbagai kemampuan. dan ini suatu keharusan....
[IA]
Monday, December 26, 2005
KENDARAAN KITA BUKANLAH PESAWAT TERBANG
Agung Gurnita
Kendaraan kita bukanlah sebuah pesawat terbang, kapal pesiar, kereta api, kereta kuda maupun BMW baik Bebek Merah Warnanya maupun BMW sungguhan. Karena kendaraan kita sebagai seorang da’I adalah hati yang menyala, hati yang tunduk, hati yang menerima. Kendaraan kita adalah ruh dan semangat kita yang senantiasa bergelora untuk senantiasa bergerak menyeru kepada kebajikan dan mencegah kemunkaran dan bergerak tuk mewujudkan cita-cita yang mulia, mewujudkan kehidupan yang Islami.
Maka, renungkanlah setiap langkah yang sudah kita jejakkan, kepada salah satu penyakit yang menjangkiti keindahan da`wah ini yaitu penyakit "inklusifisme" inklusifisme disini bukan hanya dalam arti bisa diterima dimana saja, karena patut diakui bahwa saat ini kita telah mampu mengikis masalah tersebut sedikit demi sedikit. Akan tetapi, inklusif disini dalam arti terkurung dalam lingkungannya, stagnan dan sama sekali tidak bergerak. Mengerjakan hal-hal yang itu-itu saja, dan tidak berkembang.
Salah satu ciri dari stagnannya da’wah kita adalah seringnya kita merasa telah melakukan sesuatu yang besar padahal kita belum melakukan apapun, seringnya kita merasa waktu kita telah tersita seluruhnya untuk berda’wah padahal sesungguhnya yang kita lakukan belum seberapa dan kalau kita sadari sebenarnya masih banyak hal lagi yang dapat kita lakukan andai saja manajemen waktu kita lebih baik. Ingatlah perkataan Imam Asy-syahid Hasan Al-Bana bahwa "kewajiban kita lebih banyak daripada waktu yang tersedia". Seringnya kita merasa telah berhasil menyusun sesuatu yang besar, padahal sesungguhnya masih banyak potensi yang tidak kita berdayakan.
Maka saudaraku, dengan penuh cinta aku ingin mengajak agar kita senantiasa bermuhasabah dalam setiap jejak langkah kita, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun pasca sebuah agenda kita lakukan.
Terakhir, mari kita memaknai tentang hakikat sebuah "kebesaran". Sesungguhnya sebuah kebesaran tidak terletak pada seberapa besar kita merasa hebat, seberapa egois kita merasa benar, dan betapa banyaknya jumlah kita. Kebesaran adalah sedalam apa hati kita tunduk pada Alloh SWT, kebesaran senantiasa berbanding terbalik dengan merasa benar, merasa hebat, dan merasa besar. Akan tetapi kebesaran akan senantiasa berbanding lurus dengan kerelaan, kesabaran, kerendahan hati, dan totalitas dalam sebuah perjuangan.
So, saatnya melakukan rekonstruksi dan revitalisasi da’wah tuk wujudkan kejayaan Islam di kampus ungu tercinta. Allahu Akbar!!!
inilah Jalanku
INILAH JALANKU
By :Agung Gurnita
By :Agung Gurnita
Katakanlah, “Inilah jalanku, aku mengajak kalian kepada Allah dengan bashiroh, aku dan pengikut-pengikutku – mahasuci Allah, dan aku bukan termasuk orang-orang yang musyrik” (Q.S. Yusuf:108).
Jalan dakwah panjang terbentang jauh ke depan
Duri dan batu terjal selalu mengganjal, lurah dan bukit menghadang
Ujungnya bukan di usia, bukan pula di dunia
Tetapi Cahaya Maha Cahaya, Syurga dan Ridha Allah
Cinta adalah sumbernya, hati dan jiwa adalah rumahnya
Pergilah ke hati-hati manusia ajaklah ke jalan Rabbmu
Nikmati perjalannya, berdiskusilah dengan bahasa bijaksana
Dan jika seseorang mendapat hidayah karenamu
Itu lebih baik dari dunia dan segala isinya…
Pergilah ke hati-hati manusia ajaklah ke jalan Rabbmu
Jika engkau cinta maka dakwah adalah faham
Mengerti tentang Islam, Risalah Anbiya dan warisan ulama
Hendaknya engkau fanatis dan bangga dengannya
Seperti Mughirah bin Syu’bah di hadapan Rustum Panglima Kisra
Jika engkau cinta maka dakwah adalah ikhlas
Menghiasi hati, memotivasi jiwa untuk berkarya
Seperti Kata Abul Anbiya, “Sesungguhnya sholatku ibadahku, hidupku dan matiku semata bagi Rabb semesta”
Berikan hatimu untuk Dia, katakan “Allahu ghayatuna”
Jika engkau cinta maka dakwah adalah amal
membangun kejayaan ummat kapan saja dimana saja berada
yang bernilai adalah kerja bukan semata ilmu apalagi lamunan
Sasarannya adalah perbaikan dan perubahan, al ishlah wa taghyir
Dari diri pribadi, keluarga, masyarakat hingga negara
Bangun aktifitas secara tertib tuk mencapai kejayaan
Jika engkau cinta maka dakwah adalah jihad
Sungguh-sungguh di medan perjuangan melawan kebatilan
Tinggikan kalimat Allah rendahkan ocehan syaitan durjana
Kerja keras tak kenal lelah adalah rumusnya,
Tinggalkan kemalasan, lamban, dan berpangku tangan
Jika engkau cinta maka dakwah adalah ta`at
Kepada Allah dan Rasul, Alqur-an dan Sunnahnya
serta orang-orang bertaqwa yang tertata
Taat adalah wujud syukurmu kepada hidayah Allah
karenanya nikmat akan bertambah melimpah penuh berkah
Jika engkau cinta maka dakwah adalah tadhhiyah (pengorbanan)
Bukti kesetiaan dan kesiapan memberi, pantang meminta
Bersedialah banyak kehilangan dengan sedikit menerima
Karena yang disisi Allah lebih mulia, sedang di sisimu fana belaka
Sedangkan tiap tetes keringat berpahala lipat ganda
Jika engkau cinta maka dakwah adalah tsabat (keteguhan)
Hati dan jiwa yang tegar walau banyak rintangan
Buah dari sabar meniti jalan, teguh dalam barisan
Istiqomah dalam perjuangan dengan kaki tak tergoyahkan
Berjalan lempang jauh dari penyimpangan
Jika engkau cinta maka dakwah adalah tajarrud (pembersihan diri)
Ikhlas di setiap langkah menggapai satu tujuan
Padukan seluruh potensimu, libatkan dalam jalan ini
Engkau da’i sebelum apapun adanya engkau
Dakwah tugas utamamu sedang lainnya hanya selingan
Jika engkau cinta maka dakwah adalah tsiqoh (kepercayaan)
Kepercayaan yang dilandasi iman suci penuh keyakinan
Kepada Allah, Rasul, Islam, Qiyadah (pimpinan) dan Junudnya (yang dipimpin) Hilangkan keraguan dan pastikan kejujurannya…
Karena inilah kafilah kebenaran yang penuh berkah
Jika engkau cinta maka dakwah adalah ukhuwwah (persaudaraan)
Lekatnya ikatan hati berjalin dalam nilai-nilai persaudaraan
Bersaudaralah dengan muslimin sedunia, utamanya mukmin mujahidin
Lapang dada merupakan syarat terendahnya, itsar bentuk tertingginya
Dan Allah yang mengetahui menghimpun hati-hati para da’i dalam cinta-Nya
berjumpa karena taat kepada-Nya
Melebur satu dalam dakwah ke jalan Allah,
saling berjanji untuk menolong syariat-Nya.
BERDA`WAH DENGAN HATI, AKAL DAN JASAD
“Saya sudah tidak sanggup lagi. Mendingan saya mengundurkan diri…”
Demikian bisikan seorang akhwat di tengah rapat yang berlangsung emosional. Suara ikhwan di balik hijab pun kian tinggi saja, bersahut-sahutan dengan sanggahan seorang akhwat senior di sisi lain. Menjelang hari-H, masih banyak pekerjaan panitia yang belum tuntas. Bagi segelintir panitia, P4L (pergi pagi, pulang pagi lagi)tampaknya menjadi suatu kemestian. Dan hari itu tibalah. Jumlah peserta melebihi target dan seluruh pendukung acara hadir. Alhamdulillah. Acara selesai dan dianggap lumayan sukses walau menyisakan hutang hingga bilangan jutaan.
Ba`da itu, sebagaimana tiap usai kegiatan diadakanlah muhasabah. “Mari bersama-sama kita lapangkan dada serta membuang semua prasangka yang bisa merusak keikhlasan hati. Hendaknya selesai dari sini, kita semakin dikuatkan, semakin kokoh sebagai rijalud da`wah. Bukan sebaliknya…”, demikian ikhwan yang bertindak sebagai Steering Committee (SC). Sore itu masing-masing panitia bersalaman, berpelukan, sebagian menangis tersedu-sedu.
Esoknya, hanya selang sehari pasca kegiatan, gumam-gumam kesal antar panitia masih kerap terdengar. “Abis dia yang berjam-jam nelepon lewat HP, eh malah malah kita yang disuruh kerja keras nalangin pulsanya. Kok enak bangeet?…”, demikian celoteh salah seorang panitia yang kebetulan diamanahkan di seksi usaha dana. Ataupun seorang ikhwan yang sampai bertekad ”Ana lebih baik mundur, selama masih ada si X di kelembagaan ini!”. Masya Allah, kemana menguapnya prinsip sabar, lapang dada, tsiqoh, saling bertausyiah,….semua prinsip yang indah-indah itu?
Ini bukan penggalan fiksi dan sebenarnya kisah di atas masih panjang lagi. Kasus-kasus klasik tentang kerja yang terdistribusikan hanya pada sedikit orang, oknum panitia yang tidak amanah, gesekan-gesekan antar personal dan seterusnya tak lupa ikut menghiasi kinerja kepanitiaan itu. Singkatnya taujihat SC serta airmata yang mengalir ternyata masih menyisakan rasa gondok dan dongkol yang akibatnya fatal: ukhuwah yang cacat.
Belum lagi bicara tentang “pendzoliman” terhadap keluarga, orang tua dan saudara-saudara di rumah yang juga harus sering menahan kedongkolan karena jomplangnya perhatian sang aktivis terhadap dakwah di luar rumah dengan perhatian terhadap keluarga. Belum lagi ancaman mengulang mata kuliah tertentu gara-gara sering ditingggal rapat manakala pada saat yang sama terngiang-ngiang jargon : “Aktivis ngga boleh punya IPK tipis!”
Kalau sudah begini, alih-alih mensugesti diri dengan kalimah tauhid ”innallaha ma`ashoobiriin” bisa-bisa yang terucap malah : Pusiiiiing!…”
Al-Insaan
Prinsip Al-Insaan yang kita pahami adalah bahwa setiap manusia punya tiga potensi : hati (ruh), otak (akal), dan jasad. Kelengkapan tiga potensi ini merupakan syarat mutlak bagi seseorang agar berdaya secara utuh. Walaupun konsep ini sudah jadi santapan sejak awal tarbiyah, namun realisasinya memang tak seindah dan semudah yang dibayangkan. Tuntutan untuk bisa menjadi da`I yang itqon (profesional) dan cerdas berbarengan dengan tuntutan untuk menjaga hubungan antarmanusia.
Pada saat seorang da`I terjun dalam aktivitas da`wah ammah, itqonul amal (profesionalisme) tampaknya memang menjadi keniscayaan. Berbekal hamasah (semangat) untuk meninggikan izzah diennya, profesionalisme menjadi kata yang ditulis besar-besar dalam buku agenda. Walau demikian, jangan lupa bahwa da`I yang notabene adalah manusia, bekerja dengan manusia pula. Dan tidak semua tipikal manusia bisa bekerja secara otomatis layaknya mesin. Ada manusia-manusia yang amat perasa dan ada juga yang sangat teoritis. Ada yang unggul dalam penguasaan fikroh, ada yang unggul dalam rutinitas ibadah mahdoh. Begitu seterusnya. Begitu beragamnya manusia, hatta manusia yang sama-sama tertarbiyah.
Anyway once again, basiccaly all human beings need to filled in those three potentions. Semuanya butuh asupan untuk memenuhi keseimbangan fungsi-fungsinya. Maka, manakala seorang da`I menjadi “mati rasa”, menjadi sedemikian mekanis layaknya mesin, ia perlu ingat bahwa mesinpun butuh pelumas.
Kesuksesan sebuah amal dakwah, taruhlah sebagaimana kegiatan pada kisah di atas, tidak dapat diukur hanya dari variabel-variabel yang kasat mata. Membludaknya peserta atau peliputan berbagai media massa tidak cukup menjadi indikator sukses sebuah amal dakwah apabila menyisakan hubungan yang retak. Ukhuwahlah yang seharusnya menjadi mesin itu. Dan ukhuwah, sangat terkait dengan ikatan hati (ta`liful quluub), terkait dengan kemampuan untuk berhubungan secara interpersonal. Sedangkan kekuatan hati itu tergantung pada quwwatus sillah billah (kekuatan hubungan hamba dengan Robnya).
Demikian pula, da`I tidak bisa berkutat pada hubungan hubungan interpersonal semata dengan mengabaikan kerja-kerja teknis yang dibutuhkan bagi sebuah seminar misalnya, atau pementasan, atau akal, atau apapun jua agar menjadi sebuah kegiatan yang layak. Kegiatan itu toh juga butuh pasukan yang jiddiyah (sungguh-sungguh) mencari dana, menyebarkan publikasi, menata setting acara, dan kerja-kerja operasional lainnya.
Semestinya tidak ada potensi manusiawi yang terdzholimi demi memenuhi yang lain. Menzholimi hati bisa berakibat turut terzholiminya fikri dan jasmani. Berharap bisa profesional, namun mengesampingkan kedekatan hati, baik antar personal maupun dengan kholiknya, maka rasa-rasanya itupun termasuk kezholiman.
Ketawazunan Jama`I
Oleh karena itu dalam setiap aktivitas yang melibatkan insaan, sekompleks apapun kondisinya, seberagam apapun kasusnya, Insyaallah akan menjadi aktivitas yang sukses tidak saja secara lahiriah namun juga kesuksesan yang hakiki, asal masing-masing dari ketiga potensi itu dipenuhi kebutuhannya secara adil dan bukankah justru itu itqonul amal (profesionalisme) yang sesungguhnya. Dengan begitu, konsep ketawazunan dalam Al-Insaan hendaknya difahami sebagai konsep yang tidak berlaku fardhi atau bagi orang per orang saja, namun lebih kompleks lagi juga berlaku di dalam sebuah sistem amal jama`i.
Yakinlah bahwa teori yang indah di atas kertas itu juga bisa terwujud di lapangan bila bila setiap da`I tidak hanya ta`at mengikuti ta`limatnya, melainkan juga ta`at menjalankannya. Bila pendzholiman demi pendzholiman ini masih terjadi juga, maka mungkin di sela-sela kepenatan beraktivitas dakwah, kita perlu berkonsentrasi sejenak. Perlu membuka-buka lagi lembaran buku-buku kajian kita, dan tentunya juga membuka mata dan hati kita. Sebagaimana jingle iklan sebuah kopi instant “buka mata, buka hati, buka pikiran...”. “Sesungguhnya bersama kesulitan itu selalu ada kemudahan”.
Wallahu`alam bishshowaab. (Tarbawi Edisi 8 Th.I 30 April 2000M)
Awal Biasa Saja
Awalnya Biasa Saja
Oleh: Meiana P. U
Oleh: Meiana P. U
Pertama kali ku tahu kalau aku diterima di Fakultas Peternakan perasaanku biasa biasa saja. Pertama kali ku menginjakkan kaki di Fakultas Peternakan aku juga masih merasa biasa biasa saja. Pertama kali ku mengenal UKI…..awalnya sih biasa biasa saja. Tapi lama kelamaan aku jadi jatuh hati. Kenapa ? Kalau mau membandingkan dengan aktivitasku di organisasi yang lain, aku lebih merasa nyaman berada di UKI. Seolah aku bersama dengan saudaraku berada dalam sebuah keluarga bahagia. Yaa…namanya juga keluarga, kadang memang ada yang bertengkar. Kadang pula ada yang berselisih paham. Kadang ada yang diem dieman. Kadang pula ada yang nggak mau ngerti kebutuhan dan kepentingan saudaranya sendiri. Kadang ada pula yang nggak tau kalau saudaranya lagi punya masalah. Kadang sama sama egois dan ngga’ mau ngalah. Kadang cuma gara gara caranya aja yang beda meski tujuannya sama jadi masalah besar. Kadang cuek. Kadang sebel. Kadang mangkel. Kadang jengkel.
Tapi…tak jarang kalau lagi punya kerjaan pasti dibantu sama yang lain. Tak jarang kalau lagi ada masalah dinasehati sama yang lain. Tak jarang kalau lagi kesulitan ditolong sama yang lain. Tak jarang kalau lagi punya rencana, ya….bareng bareng mewujudkannya. Tak jarang kalau ada yang nyleneh diingatkan sama yang lain. Tak jarang kalau lagi punya makanan dibagi bagi sama yang lain. Tak jarang kalau ada yang lagi kelabu dihibur sama yang lain. Tak jarang kalau lagi bahagia ditularkan sama yang lain.
Pokoknya indah banget deh. Hidupku jadi lebih berwarna. Meski banyak sekali bebatuan yang menghadang, tapi lama kelamaan aku jadi semakin paham bagaimana cara untuk melalui jalan itu. Aku sudah bisa menaiki satu tangga kehidupan. Karena aku bukan yang dulu lagi ketika aku baru pertama kali masuk menjadi mahasiswa baru. Hidupku jadi semakin bermakna. Karena aku tau, sukses dan kebahagiaanku tidak tergantung pada situasi, lingkungan atau orang lain, namun pada pilihanku untuk mengisi hari hariku dengan pikiran dan tindakan positif.
Ketika aku diberi amanah menjadi "pemimpin", ternyata memang tidak mudah. Kepemimpinanku waktu itu masih lembek. Sinergiku waktu itu masih redup. Cara kerjaku waktu itu masih amburadul. Komunikasiku waktu itu masih kacau. Empatiku waktu itu masih limit. Emosiku waktu itu masih labil. Semangatku waktu itu masih goyah. Meskipun waktu itu aku merasa penuh dengan kesulitan, namun ternyata di balik kesulitan itu banyak sekali manfaat yang bisa aku ambil.Aku jadi tau seorang pemimpin itu perlu karisma. Aku jadi tau seorang pemimpin itu perlu ketegasan. Aku jadi tau seorang pemimpin itu perlu "bicara" dengan rekan kerjanya. Aku jadi tau seorang pemimpin itu mudah menularkan energi positif dan energi negatif kepada lingkungannya. Aku jadi tau seorang pemimpin itu perlu perencanaan ke depan yang matang. Aku jadi tau seorang pemimpin itu perlu lihai menjaga emosi. Aku jadi tau seorang pemimpin itu perlu hati hati dengan kata katanya. Aku jadi tau seorang pemimpin itu perlu melihat masalah dengan mata hatinya. Aku jadi tau seorang pemimpin itu perlu memiliki Power of Leader.
Saat ini, aku tinggal menunggu hari. Hari hari terakhirku tuk pergi dari sini. Dari keluarga yang aku cintai. Cinta karena 4JJ1, cinta karena Islam. Islam bisa menyatukan segalanya. Segala perbedaan yang ada. Ada yang suka merah, ada yang suka putih, ada yang suka biru dan lainnya. Lain insan lain keinginan. Keinginan setiap manusia pasti berbeda. Berbeda tak harus bercerai berai, berbeda tak harus terpisah, berbeda itu indah. Seindah taman dengan bunga dan rumput liarnya, seindah gunung dengan hutan dan batu cadasnya, seindah sungai dengan air dan lumpurnya, seindah laut dengan ikan dan karangnya. Karang di hati cukuplah untuk mengokohkan diri agar tak mudah hancur dan terbawa arus. Arus kebencian, arus malapetaka, arus kehancuran.
Tak mudah untuk sebuah perpisahan. Tak mudah untuk sebuah kehilangan. Akankah 4JJ1 berkenan untuk mempertemukan kita dalam keadaan yang lebih baik? Akankah 4JJ1 senantiasa menjaga kita untuk selalu dekat denganNya? Harapan akan selalu kusematkan dalam dada agar mampu kujalani masa masa sulit dan hidup berkemenangan dalam segala situasi. Setiap detik yang kulalui akan lenyap dan tidak akan pernah kembali. Aku tidak boleh sekedar hidup untuk menghabiskan jatah umur saja. Kalau aku benar benar hidup aku bisa menikmati hidup dalam menggapai kebahagiaan dan meraih keberhasilan.
kenangan seorang hamba
Kenangan Seorang Hamba
Oleh : Jarsih Ari P
Oleh : Jarsih Ari P
Waktu ibarat pedang, yang setiap saat bisa memenggal kita !!
Pertama kali kaki melangkah menjadi mahasiswa di kampus ungu fapet, terasa asing dan canggung.
Semakin lama keasingan dan kecanggungan itu sirna setelah aku menemukan UKI. Dengan UKI hati dan pikiranku terbuka tentang islam.
Hamba bersyukur kepada Alloh telah menunjuki jalan ini.
Bersama UKI hamba banyak belajar tentang ujian hidup.
Buat saudara-saudaraku seperjuangan di UKI terima kasih atas pelajaran hidup yang kalian berikan.
Perjuangan untuk memuliakan dan menjadikan islam kuasa jangan terhenti, hanya karena perbedaan.
Persaudaraan islam sangatlah indah, karena Rasululloh SAW menyatakan: “Tidaklah seseorang diantara kalian beriman hingga ia menyukai saudaranya memiliki apa-apa yang disukainya bagi dirinya” (HR. Muslim)
Kepada saudara-saudaraku di UKI.
Hamba minta maaf belum bisa memberikan yang terbaik, terusakan estafet perjuangan!!
Se,oga Alloh yang maha Mulia senantiasa melimpahkan taufik kepada kita untuk berbuat taat kepada-Nya serta menolong kita dalam menghadapi hawa nafsu kita. Semoga Alloh memberi pertolongan-Nya agar kita dapat menggunakan waktu sebaik-baiknya.
Mudah-mudahan Alloh mengampuni dosa dan kesalahan kita, karena manusia tidak luput dari salah dan khilaf.
Ya Tuhan, tiada tempat berlindung bagiku
Selain di bawah naungan belas kasih-Mu
Harapanku, semoga aku tidak tersingkir dari pintu Rahmat-Mu
Ya Tuhanku, terimalah tobat hamba-Mu ini
Agar aku dapat menutup kelalaianku terhadap keagungan-Mu
Engkau Maha Mengetahui kondisi hamba-Mu
Yang terbelenggu oleh rantai besinya dosa-dosa
Engkau penolong hamba-Mu yang memohon pertolongan
Tiada tempat untuk menyegarkan dahaga selain lautan maaf-Mu
Dan tiada pintu yang kami tuju selain Rahmat-Mu
Estafet perjuangan tuk jadikan islam kuasa jangan terhenti, jadilah orang yang optimis, yang melihat bunga mawar tanpa melihat duri,
Jangan jadi orang pesimis yang hanya melihat duri tanpa melihat mawar.
Tiada Kemuliaan Tanpa Islam, Tiada Islam Tanpa Syariah, Tiada Syariah Tanpa Daulah Khilafah !! Allohu Akbar !!
Yaa Alloh, menangkan islam dan kaum muslimin,
Menangkan para mujahidin yang ada di penjuru bumi bagian timur dan barat.
Yaa Alloh, turunkan kepada mereka kemenangan yang gilang-gemilang.
Yaa Alloh, satukan mereka,tetapkan hati-hati mereka (berilah keteguhan),
Limpahkan kepada mereka kesabaran dan tolaklah dari kaum muslimin bala’, penyakit, ujian yang tampak dan tidak tampak.
Yaa Alloh, tunjukkan kepada kami di dalamnya kekuasaan-Mu yang menakjubkan.
Yaa Alloh, Engkau Maha Kasih dan Kasih Sayang
Semoga Alloh menjaga persaudaraan ini. Amiin
KENANGAN
KENANGAN
Oleh : Nur Rohmah.
Oleh : Nur Rohmah.
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb
Segala puji hanyalah milik Alloh Penggenggam alam semesta dan Penentu segala kuasa. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah pada junjungan kita Nabi Muhammad SAW pembawa lentera menerangi alam semesta yang gelap gulita.
Saudara saudariku seiman dan seIslam yang dirahmati Alloh, perkenankanlah diri ini untuk menggoreskan tinta tuk kau kenang setelah ku tak bersamamu lagi. Kenangan yang kita alami bersama dalam suka dan duka demi meraih sebuah asa tuk menggapai RidloNya.
Pertama kali ku mengenalmu, aku merasa asing darimu. Hanya kumasuki perlahan lahan, ku tersentuh karena nyanyian yang dibawakan oleh kakak angkatan “Tombo Ati” itulah nyanyian yang mengingatkanku pada sebuah harapan. Kata katanya sejuk menyentuh kalbu membuat aku bergegas mempercepat langkah kakiku dengan saudara seiman dan seIslam yang mudah mudahan dapat mengobati kalbu.
Setelah aku mantap masuk, disitulah kutemukan banyak sekali perbedaan dari warnaku, kebiasaanku dan pemikiranku, namun keyakinan diriku bahwa perbedaan itu akan membawa namaku. Kutetap bertahan meskipun berbagai cobaan menerpaku, kuyakin aku pasti menemukan yang kuharapkan. Kureguk berbagai kenikmatan dalam sebuah perbedaan sehingga aku tersadar bahwa itulah fitrah Tuhan.
Ilmu yang sudah kudapatkan justru membuat diriku semakin berkurang akan pengetahuan tuk mendapatkan kebenaran. Ketika ku asyik berjuang datanglah badai menghadang sehingga sempat menghentikan langkah kakiku. Namun sebuah sinar datang menerangi diriku sehingga aku bisa bangkit dan bergabung dengan saudara saudariku dalam berjuang.
Ternyata sebuah perjuangan membutuhkan pengorbanan namun disitulah kita mendapatkan pengalaman dan kenikmatan. Hikmah akan datang pabila kita bisa merenungkan apa apa yang telah kita kerjakandan kesalahan apa yang telah kita lakukan.
Saudara saudariku seiman dan seIslam kutitipkan perjuangan ini di pundak kalian, kupesankan padamu teruslah berjuang namun jangan kulupakan kewajiban utama dan ikhlaskanlah dalam berjuang tuk menggapai Ridlo Tuhan.
Kata terakhir dariku untukmu “jadilah kalian pendaki dalam berjuang, jangan menjadi pekemah”. Seorang pendaki akan senantiasa berjuang menuju puncak untuk menggapai kenikmatan. Namun seorang pekemah akan berkemah di tempat yang landai sebelum puncak. Maka dia akan istirahat sebelum mencapai puncak sehingga akan semakin lama kita menemukan keindahan.
Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.
pelabuhan Fajar
PELABUHAN FAJAR
Oleh : Cahyo Tri Panuntun
Oleh : Cahyo Tri Panuntun
Waktu itu, entah hari dan tanggal berapa.
Aku memulai menapaki hari-hariku. Dengan beberapa litter bahan bakar, kukendarai perahuku, perahu mungil yang diberikan orang tuaku dengan izin-Nya, mengarungi samudera luas yang terbentang. Mencari dunia baru, dunia yang bisa memberiku kekayaan yang berlimpah. Bahan bakar yang banyak, atau perahu baru, bukan bukan, bukan perahu tapi kapal baru, yang lebih besar tentu, dan disertai perabotan yang wah dan modern, di dalamnya terdapat banyak makanan, tv, telfon, vcd, ac, dispenser, radio atau bolehlah kolam renang dan lain sebagainya. Tentu saja mencari hari yang baru, yang sebelumnya tidak pernah mampu terfikirkan olehku. Hari dengan ruang yang berbeda, suasana yang berbeda, kebiasaan yang berbeda, tingkah dan wajah yang berbeda, pakaian yang berbeda, bahkan bahasapun berbeda.
Setelah jauh ku laju perahuku, sampailah aku di sebuah kepulauan (kumpulan pulau). Dapat kulihat beberapa pulau, banyak. Menarik, indah dan tampak berpenghuni. Ada yang datang dan ada yang terlihat menjauh dari pulau-pulau itu. Tiba-tiba, wuuzzzzz. Banyak sekali perahu-perahu yang serupa denganku, saling berlomba, berkejaran, adu cepat, meliuk-liuk di hamparan samudera. Lebih-lebih lagi pengendara-pengendara perahu-perahuh itu. Ada si wah yang berperahu mewah dengan cat yang mencolok, ada si yahud yang meliku-liku menggoda, menaiki prahu mungil nan indah, ada si wow dengan perahunya yang besar dan mesin yang menderu kencang, tapi hey ada juga si yach yang mengendarai sebuah perahu bermerk sangat terkenal, merk “Apa adanya” memang sangat tenar di seluruh samudera ini, sangat banyak yang punya sehingga tak sulit menjumpainya. Begitu pula dengan milikku. Dan rata-rata itulah yang dimilki oleh penghuni samudera ini di manapun pulau yang ia tempati.
Terpaan angin semilir membuatku sedikit lalai. Hanya tertegun, berjalan lambat, dan terkesan ragu. Tidak seperti mereka yang telah weerrr siuut !! melewatiku. Aku masih terapung dalam ragu. Pulau-pulau itu sungguh menarik, kerlap-kerlip lampu berwarna-warni menghiasi, bagaikan pelangi pesolek langit. Lama aku tertegun, bingung tanpa pilihan. Semua pulau itu indah dan sangat berbeda dengan pulau tempat kutinggalkan. Sejenak kuhentikan laju perahuku mencoba berpikir cerdas. Akupun melihat beberapa kawan yang sama, persis. Ragu dan membayang masa depan yang belum pernah tergambar.
Di waktu itu, entah hari apa namanya.
Segala pujian hanya pada Tuhan Rabb semesta alam. Yang mencipta dan menguasa segala sesuatu yang ada di dalamnya. Yang telah menaklukkannya untuk manusia. Manusia yang sebenarnya sangat dhoif yang dikarunia sedikit saja ilmu dari-Nya. Akupun memutuskan untuk memilih dua pulau diantara kesekian pulau itu. Aku sadar tak mungkin semua terjangkau. Akupun mencoba mengerti, bahwa pulau-pulau itu adalah tempat untuk kami (pengendara perahu) dari manapun, untuk sekedar berlabuh, mengisi kembali bahan bakar dan mencari kekayaan yang kami butuhkan untuk kembali meneruskan perjalanan. Hanya sementara saja dan kami tetap akan pergi untuk menemukan pulau-pulau lainnya lagi.
Pilihanku adalah pulau yang tampak lebih rindang, hijau, sejuk dan damai. Pulau satu tidak banyak ada hiasan disana sini tapi aku bisa merasakan kehangatan salam ketika kudekati dan suasana yang damai ketika aku mencoba untuk duduk beristirahat sejenak. Menyandarkan tubuhku pada pohon besar yang menjulang tinggi dengan daunnya yang rindang. Sepoi-sepoi dapat kurasakan. Tapi aku segera tersadar, bukan hanya ini yang kuinginkan. Terlalu melenakan jika aku berlama di pulau baru ini. Maka aku pun mencari pulau lain untuk mendapatkan hal yang lain lagi. Rasanya ada satu lagi pulau yang menarik hatiku. Cukup meriah disana, banyak hal yang bisa kutemui. Persahabatan dan kerjasama juga bisa kudapati disini, ramah.
Maka hari haripun segera kulalui di dua pulau itu secara bergantian. Di sana aku belajar, mendapatkan pelajaran dan kadang mencoba mengajarkan. Aku diajari tentang berperang, aku juga belajar tentang membuat perahu, membersihkan perahu, mencari dan melengkapi kekayaan sendiri. Di sana pula ku di ajari berbicara, berteriak ataupun menangis. Cara mereka, metode mereka sendiri. Aku pun berusaha untuk mendapatkan apa yang mereka berikan. Baru sekedar itu, tak banyak yang bisa kuberikan.
Entah sudah hari keberapa dan apa nama hari ini.
Siklus senantiasa berputar. Ada yang datang dan pergi. Siang tak mungkin bersamaan dengan malam, kecuali di belahan yang berbeda. Ada yang belajar dan ada yang mengajarkan. Ada kalanya meminta dan kala lain dituntut untuk memberi. Pun terjadi di semua pulau. Wajar jika penghuni berganti penghuni lain, penghuni lama akan pergi, digantikan penghuni baru yang sudah sempat belajar. Penghuni baru di tuntut untuk mampu mengajarkan apa yang sudah di pelajari kepada calon penghuni yang lebih baru lagi hingga mereka mampu untuk menggantikannya. Penghuni akan menyiapkan penghuni pengganti. Singkat cerita, akhirnya akupun menyadari tidak mungkin aku akan terus berada diantara dua pulau itu. Itu membuatku kurang maksimal. Maka akupun harus memilih, memilih diantara dua pulau itu untuk lebih serius dan konsentrasi. Bukan hanya belajar tapi lebih banyak mengajarkan. Bukan mengajarkan, tapi mentransfer pelajaran yang telah kupelajari untuk diteruskan pada calon penghuni yang lain. Sepertiku tempo dulu.
Akupun memilih pulau.
Pulau yang lebih menarik hatiku. Karena disana ada pohon kedamaian, ada rumah-rumah kasih sayang, ada sawah persaudaraan yang luuuaaas, ada bukit-bukit toleransi. Ada juga gunung-gunung kebersamaan. Satu lagi, ada istana kekhusyuan, beratapkan istiqomah, berdindingkan komitmen, dan pintu gerbangnya berhiaskan tawadhu. (semoga tidak berlebihan)
Itulah pulau, yang aku telah menjatuhkan pilihanku untuk tetap disana (untuk sementara waktu) sampai akhirnya akan kutinggalkan lagi untuk mencari pulau lain. Pulau itu, memiliki nama yang sama dengan pelabuhannya. Pernah ke HOLLIWOOD ?. Ada tulisan besar di bukit, HOLLIWOOD. Nha di pulau ini juga ada tulisan besar, UNIT KEROHANIAN ISLAM.
Itulah awal perkenalanku dengan UKI. Ada banyak kesan yang saya dapatkan di sana. Keramahan pengurus-pengurusnya, perhatian yang mereka berikan, bantuan yang selalu siap sedia jika dibutuhkan, gambaran kegiatan yang lumayan menarik. Maka sejak tahun 2001 saya sudah memutuskan untuk menjadi pengurus UKI dan menolak tawaran untuk menjadi pengurus di UKM lain yang sejak awal juga saya ikuti. Bukan tidak tahu terima kasih dengan segala apa yang diberikan oleh UKM tersebut, tapi lebih karena saya tahu akan kemampuan yang saya miliki tidaklah cukup untuk menempatkan diri di dua UKM intra fakultas ini. Karena menjadi pengurus bukan hal yang sepele. Ketika saya masuk jadi pengurus maka secara otomatis saya mendapatkan tuntutan untuk berbuat lebih. Dan amanah itu menjadikan saya khawatir untuk meninggalkannya, karena saya yakin bukan hanya urusan dunia saja, diterima dan di tolak LPJ pengurus, tapi ada sesuatu hal yang lebih yaitu urusan dengan yang ngecat lombok (kata ibu), saya akan dimintai pertanggungjawaban ketika saya menerima amanah. Saya tidak bisa membayangkan ketika saya menerima banyak amanah, kemudian saya berjanji, berikrar untuk menjadi pengurus tapi kemudian saya tinggalkan begitu saja entah dengan alasan capek, sibuk, tidak bisa bagi waktu atau karena malas. Naudzubillahi min dzalik.
Resiko, ketika kita menerima amanah itu adalah melaksanakannya. Saya tahu akan kemampuan saya, tidak mungkin sanggup, maka dari awal saya harus memutuskan.
Ada alasan lain yang mendasari penolakan itu, karena ada keinginan untuk lebih di bidang yang lain, menjadi asisten praktikum, ingin aktif di orgasnisasi ekstra kampus, ingin ngaji di masjid dan lain sebagainya. Maka sayapun harus memutuskan. Prinsip: Ketika kita sudah berjanji maka tepatilah, ketika kita mengambil amanah maka pertanggungjawabkanlah dan ketika kita sedang berusaha maka bersungguh-sungguhlah. Firman Alloh “ Dan rang-oarng yang bersungguh-sungguh pada jalan kami, sungguuh akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Alloh bersama orang-orang yang berbuat kebajikan”.(QS Al ‘Ankabuut : 69)
Walaupun tidak semua harus seperti itu, mungkin ada yang lebih sanggup itupun tidak menjadi masalah.
Maka mulailah babak baru.
Saya menjadi pengurus UKI. UKM satu-satunya yang bergerak dibidang dakwah, UKM satu-satunya yang berani menjadikan ISLAM sebagai asas. Ditengah – tengah keengganan mahasiswa (islam) untuk berbicara islam apalagi berbuat sesuatu yang islami, tapi UKI berani menjnajakan memperdagangkan ISLAM. Walaupun saya tahu tidak mudah, dan saya tahu saya belum mempunyai cukup bekal untuk menjadi pengurus UKI, jika kita pandang dari segi idealita. Sering kita berpandangan pengurus UKI harus seorang yang sholeh dan sholihah, rajin ibadah, berjenggot dan berjilbab lebar, kening kehitaman, banyak hafalan, ilmu agamanya banyak, pandai berdakwah, selalu menjaga pandangan, dan lain-lainnya. Memang BENAR, semua syarat itu memang harus! Tapi jika tidak tersedia orang-orang yang memenuhi kualifikasi itu, apakah kita harus berdiam diri, minder, menunggu sampai ada malaikat-malaikat yang mau menjadi pengurus UKI?
Tidak, menurut saya. Dalam ketakutan saya, di sana ada harap dan janji, untuk memberikan yang terbaik. Dalam kesadaran akan keterbatasan kemampuan yang saya miliki, saya mencoba untuk menanamkan tekad: Berbuat optimal, memaksimalkan kemampuan yang minimal. Artinya apa? Cobalah untuk selalu memberikan yang terbaik, melakukan sesuatu yang paaaling maksimal dari kemampuan kita yang sangat terbatas dan berharap akan adanya manfaat yang datang akibat perbuatan kita. Kita merasa sedikit ilmu maka semua ilmu yang kita miliki itulah yang akan kita berikan. Karena setiap insan akan dimintai pertanggungjawaban sesuai dengan kemampuannya, ujian bagi masing-masing individu akan berbeda kadarnya jika dilihat dari luar tapi mungkin sama kadar beratnya bagi individu yang merasakannya.
Tahun 2001.
Saya menjadi ketua bidang dakwah. Saya mempunyai partner orang-orang hebat saat itu. Ketika itu jumlah kami dalam satu bidang ada 5 orang. Dua akhwat dan tiga ikhwan, masih sedikit. Dari sedikitnya jumlah personel, kami mempunyai tugas yang berat. Dari namanya saja kami punya persepsi, harus ada kegiatan-kegiatan yang sifatnya seremonial, kegiatan besar yang bisa lebih terlihat syiarnya. Cukup banyak yang harus kami kerjakan, mulai dari pemutaran film, kegiatan romadhon yang terkenal dengan SALAMKU (Nuansa Islam Ramadhan Kampus Ungu, seingat saya nama itu ditemukan saat kepengurusan ini), sampai yang namanya Desa Binaan. Ini adalah pengalaman pertama menjadi pengurus organisasi di Kampus. Bayangan saya, diawal kepengurusan, kami akan dapat melaksanakan tugas-tugas berat itu dengan baik, karena memang kami sendirilah yang menyusun dan semua terlibat.
Tapi, dalam proses selanjutnya menjadi berbeda dari permulaan kami. Banyak faktor yang kemudian menghadang kebersamaan kami, sehingga tim dakwah menjadi agak oleng. Bisa jadi karena kesibukan masing-masing personal sudah mulai terasa atau bisa jadi karena sang kabid sendiri yang tidak bagus dalam mengelola dan memenej partnernya, sehingga tidak ada motivasi, tidak ada kontrol dan tidak ada saling mengingatkan. Tapi ta apalah, semua masalah itu bisa dimaklumi. Ada carita lebih seru lagi saat kepengurusan ini. Kegiatan Desa Binaan. Kegiatan baru yang sebelumnya belum pernah dilaksanakan oleh UKI, bukan desa binaannya, tapi kegiatan awalnya. Maksudnya, tim dakwah memutuskan untuk melaksanakan bakti sosial sebelum kita melaksanakan deesa binaan. Baksos adalah untuk menarik simpati dari masyarakat, dan jika hati mereka sudah kita dapatkan, maka akan mudah jika mau dilanjutkan ke desa binaan. Banyak kegiatan yang direncanakan. Mulai dari kegiatan untuk anak-anak, remaja putri, ibu-ibu dan bapak-bapak. Seperti biasa kami akan membentuk panitia terlbih dahulu. Kamipun mengundang anggota UKI untuk dibentuk panitia Baksos. Saat itu ada yang datang lumayan 3 orang. So, ,otomatis mereka jadi ketua panitia, sekretaris dan kesekretariatan. Singkat cerita, panitia tidak berjalan sesuai apa yang diharapkan. Sehingga, kami dari pengurus sendiri yang harus menyiapkan segalanya, mulai dari survei lokasi, surat izin, nglobi kades, mengonsep acara, mempublikasikan ke desa, mengumpulkan para pemuda desa, menghubungi kepala dusun-kepala dusun, mencari barang-barang untuk pasar murah, mencari sponsorship kegiatan, mencari ustadz untuk ngisi pengajian, mencari donatur, membuat proposal dan lain sebagainya. Alhamdulillah bukan hanya tim dakwah saja tapi ada bantuan dr pengurus bidang lain. Saat itu saya ingat, persiapan baksos adalah sewaktu di kampus ada ujian sisipan, pantas saja tidak ada anggota yang mau kerja. Mereka memilih untuk belajar. Pernah suatu malam, saya harus ke desa mengikuti pertemuan RT untuk sekaligus mempublikasikan kegiatan baksos. Saya pulang dari desa jam 11 malam, pada hal besoknya saya ujian. Bukan berarti saya pandai sehingga tidak usah belajar, tapi itulah yang saya sebut dengan tanggung jawab, memenuhhi amanah dalam kondisi berat sekalipun. Waktu berjalan, semua panitia (pengurus) mampu bekerja dengan optimal sehingga tibalah saat pelaksanaan. Alhamdulillah banyak bantuan datang saat itu, proses yang kami lakukan mendapat respon yang baik dari masyarakat. Anggota pun banyak yang membantu. Dan kegiatanpun sukses. Ada suatu hikmah lagi dalam kegiatan ini yang bisa kita ambil. Pertama yakinlah, Intanshurulloha yanshuurkum, jika kita mau menolong (berbuat dan berusaha untuk) Alloh, maka Dia akan menolong kita. Kedua, dalam posisi apapun kita harus berusaha maksimal, sebagai pengurus harus selalu memantau kegiatan dan sebagai panitia harus pula melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya. Ketiga, yang namanya dakwah memang berat dan begitu panjang, apa yang diusahakan saat ini, sekarang mungkin anak cucu kita yang akan menikmati. Saya pernah mengeluh dan seorang sahabat mengatakan, tidak banyak yang kuat memikul beban berat dakwah ini, dan tidak banyak yang mampu melalui jalan panjang dakwah. Itulah yang selalu terngiang. Akhirnya kitapun mendapat respon yang baik dari masyarakat yang selalu minta kita untuk aktif di sana, setelah proses yang bagiu berat kita lalui. Alhamdulillah...
Tahun 2002.
Saya masih dipercaya menjadi pengurus setelah kekurangberhasilan saya menjadi ketua bidang. Tapi saat ini saya hanya menjadi staff bidang. Bidang yang lebih berat lagi dari segi konsepsi, Bidang Kaderisaasi. Tapi sayapun merasakan pengalaman yang berbeda lagi, dalam kondisi yang berbeda dan beban yang berbeda pula, lebih berat. Bidang ini di pasrahi tugas untuk membuat metode pengkaderan. Mulai dari rekruitmen sampai penjagaan anggota, bidang ini yang bertanggungjawab lebih besar. Karena ketersediaan kader menjadi suatu keniscayaan dalam organisasi apapun. Total tim kaderisasi saat ini adalah 8 orang, jumlah yang cukup banyak dedngan komposisi 3 akhwat dan 5 ikhwan. Sungguh luar biasa, di sinilah saya merasakan ukhuwah, persahabatan dan persaudaraan yang sebenarnya. Kerjasama atau team work yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Saat ini lebih capek, saat ini lebih pusing, saat ini ada kecewa, saat ini ada marah, saat ini juga ada tangis, tapi saat ini penuh dengan kerinduan, saat ini penuh dengan bahagia, saat ini penuh dengan keterbukaan, saat ini pula penuh dengan persaudaraan. Lumayan menarik bagi saya, kita dari awal sudah berkomitmen, untuk senantiasa bekerjasama. Maka, rapatpun rutin tiap minggu sekali walau ga tau apa yang dah dihasilkan, tidak datang rapat kenakan iqob (denda) mbayar 2000 rupiah atau membuat tulisan tentang apapun yang nanti bisa di bacakan saat rapat atau di tempel di mading. Ada lagi, kita bersepakat untuk membuat suatu media yang bisa kita gunakan bersama untuk berdiskusi, curhat or sekedar ngasih informasi secara informal. Jadilah email bersama yang ID dan passwordnya diketahui bersama, skr sudah menjnadi umum milik UKI kaderisasi_uki@plasa.com, password kaderisasi. Di kaderisasi, banyak hal yang dilakukan karena memang itu harus dilakukan, sekali lagi itu menjadi bagian dari tanggunngjawab. Mbahas masalah kader dari masalah pribadi sampai organisasi, begitu pula kamipun tidak jarang membicarakan (bukan ghibah) kasus-kasus yang terjadai di kepengurusan, dari keorganisasian sampai masalah personal. Wow ...! begitulah karena kita sudah menyadari tugas kami itu dari awal, kaderisasi itu tempat yang membuat kita pusing, mumeti dan mengesalkan sekaligus menyenangkan.
Ada satu cerita. Ketika itu, ada kegiatan LKI 1, kami menyiapkan segalanya, mulai dari konsep, proposal dan membentuk panitia (dari pengurus). Tapi apa dikata, pesertanya tak kunjung merespon, ada hanya sedikit. Dada kami sesak, hati sakit, mata menjadi panas, ah kecewa juga, khawatir dan hampir PUTUS ASA. Kemudian kami konsolidasi khusus internal kaderisasi tanpa melibatkan panitia yang lain, saat itu sang koordinator J menginginkan di batalkan atau ditunda saja. Dengan bermacam argumentasi tentu, nalar. Tapi tidak berhenti begitu saja, penolakan terluncur dari perasaan tajam akhwat, sudah dipersiapkan dan dipertimbangkan masak-masak kenapa harus ditunda kata mereka yakin. Akhirnya kami bersepakat, sekarang bukan saatnya untuk mengeluh apa lagi melenguh (hmooo), tapi bagaimana solusinya. Disepakati, kita akan hunting peserrta, so pembagian tugaspun dilaksanakan. Siapa ngapain dan kemana, semua dapet tanpa ada yang kelewatan. Karena itulah perjuangan dan pengorbanan yang kami harapkan nantinya menjadi pemberat timbangan amal kebaikan. Di sana nanti. Dan kegiatanpun sukses, menurut penilaian kami sendiri. Hmmm
Ada hikmah disana. Pertama, jangan ada kata PUTUS ASA! Dalam setiap episode kehidupan kita pasti ada yang namanya rintangan, jadi tetap TEGAR menjadi pilihan terbaik yang harus kita lakukan. Kedua, memang harus ada MOTIVATOR dalam setiap perjalanan yang kita tempuh, sang akhwat yang bisa ngasih semangat untuk terus maju misalkan. Ketiga, dalam menghadapi masalah bukan kata MUNDUR yang selayaknya lebih kita percayai, tapi mencari jalan keluar / SOLUSI untuk memecahkan problem yang ada lebih baik untuk dilakukan
SALAM MANIS UNTUK KALIAN, TEAM KADERISASI PERIODE 2002/2003. KEEP FIGHT ! ISTIQOMAH.
Tahun 2003
Masih juga dipercaya menjadi pengurus UKI. Tapi ini mungkin the last time. Dah ngepol, menuju puncak kata akademia AFI (Akadedmi Fantasi Indosiar). Jadi DPO, sangar tenan. Ada berbeda kisah lagi di DPO ini. Yach, walaupun tidak seseru waktu masih muda dulu. Karena yang ada di DPO itu ya orang-orang tua semuanya, istilah kerennya angkatan sembilan tua. Bahkan saat pemilihan, ada anggota DPO yang sudah mewanti-wanti “saya mungkin tidak akan bisa full”. Yaa intinya akan segera lulus. Dan benar saja sampai saat musang DPO resmi yang tersisa ada 3 orang dari 6 orang yang terpilih. Yang lain dah lulus (jadi malu saya kalo bicara lulus).
Kalo biasanya, di kepengurusan sebelumnya DPO jarang keliatan dan ngumpul, tapi di kepengurusan ini Alhamdulillah sama saja ..eh... lumayan sering ngumpul, karena semua anggotanya semangat. Saya hanya menjadi bagian yang kecipratan -bahasa Jermannya- semangat itu. Evaluasi-evaluasi sampai mencari solusi dari permsalahan-permasalahan yang kami dapatkan di kepengurusan. Kemudian kamipun mencoba memberikan saran kepada pengurus. Lumayanlah, cukup banyak atau beberapa sajalah saran yang dapat kami sampaikan ke pengurus walaupun lebih sering di tolaknya. InsyaAlloh kami cukup solid. Semoga ini juga karena paham dengan kata kunci TANGGUNG JAWAB.
Akhirnya kepengurusanpun berakhir. Kami cukup bahagia dan bangga dengan kepengurusan ini. Untuk menunjukkan kebahagiaan kami tersebut, maka kami ingin meninggalkan sesuatu –yang semoga berguna- bagi UKI kami cinta. Hanya tulisan-tulisan kecil yang sekarang ada ditangan antum.
Dan sekarang
Akupun meninggalkan pulau itu, lewat pelabuhan yang sama. Tapi ada yang berbeda. Aku datang dengan perahu kecil, bahan bakar yang sedikit dan kekayaan yangterbatas. Kini aku pergi dengan perahu baru, bukan, lebih dari perahu tapi kapal. Kapal itu bernama kedewasaan, bahan bakarnya adalah istiqomah. Terbuat dari bahan-bahan yang kuat yaitu tanggungjawab. Kekayaan melimpah, ada persaudaraan, keikhlasan, kebersamaan, pengalaman, semangat, toleransi, keceriaan dan banyak lagi.
<>
Dan bagi antum saudaraku fillah, yang sekedar kenal, yang sempat akrab, dan yang sama sekali tidak mengenal saya. Ada pesan untuk antum, yaitu jangan ada ketergantungan tapi jangan tanggalkan kecintaan. Apa dan kenapa jangan ketergantungan? Ketergantungan –pada siapapun juga- hanya akan menyebabkan kelemahan dan keruntuhan kepercayaan diri. Ketergantungan –kecuali kepada Alloh- hanya akan menghalangi kemandirian. Ketergantungan hanya akan menyebabkan lambatnya proses kedewasaan. Apa dan kenapa jangan tanggalkan kecintaan? Karena deengan cinta akan semakin menguatkan persaudaraan. Dengan cinta akan mengokohkan ikatan. Dengan cinta akan membuat kita saling melengkapi. Kita hanya saling membutuhkan bukan ketergantungan, karena kita hanya manusia biasa.
Wallohu a’lam bishshowab.
penulis adalah
presiden BEM fapet Unsoed Periode 2003-2004
Kaderisasi UKI fapet 2002-2003
kaderisasi UKKI Unsoed 2003-2004
kenanganku bersama UKI
KENANGANKU BERSAMA UKI
Oleh : Agung Gurnita
Awal Persentuhanku dengan UKI
Ketika aku mulai menginjakkan kaki di "kota mendoan" Purwokerto, sebenarnya aku sudah kenal sama UKI (Unit Kerohanian Islam) yang katanya merupakan organisasi keislaman yang ada di tiap fakultas, termasuk Fakultas Peternakan. Aku mulai tahu banyak tentang UKI dari para aktivis UKI yang pertama kali kukenal, pertama adalah kang Agus Budiman, aku kenal dia sewaktu aku registrasi PMDK, trus kang Ali Kurniawan, dia adalah ketua UKI waktu itu yang kukenal sewaktu ada acara silaturrahmi dengan para mahasiswa baru di Masjid Kampus "Nurul Ulum", selanjutnya kang Rano Karno "Muhamad Bilal" yang kukenal sewaktu aku ngetik tugas OSPEK di Misykah Komputer (yang sampe sekarang jadi rental komputer langgananku). Merekalah orang-orang pertama yang mengenalkan aku pada UKI sehingga aku "terjerumus" ke dalamnya.
Perkenalanku dengan UKI berlanjut saat acara "AKSI 99" (OSPEKnya Fakultas Peternakan tempo dulu). Waktu itu aku juga dikenalkan dengan UKI oleh mbak pendamping OSPEK-ku yang kebetulan dia juga aktivis UKI, mba Ocha namanya. Sampai kemudian pada hari terakhir OSPEK, lewat acara pengenalan UKM. Aku melihat banyak UKM yang mencoba untuk TTP (Tebar-Tebar Pesona) kepada para mahasiswa baru. Ternyata, dari sekian banyak UKM yang ada, tidak ada satupun UKM yang mampu "mencuri hatiku" , karena terus terang aja waktu itu pilihanku udah ngga bisa ke lain hati deh. Memang kuakui, UKI adalah satu-satunya UKM yang berbeda dengan yang lain, karena tampilannya yang penuh dengan kesejukan, wajah-wajah para aktivisnya yang bercahaya dan penuh keteduhan ditambah lagi dengan jilbab para akhwatnya yang melambai-lambai dengan anggunnya membuat hatiku semakin terbuai (eh, jadi inget sama lagu qosidah Jilbab Putih), yang jelas saat itu aku merasa yakin bahwa inilah organisasi yang cocok buatku.
Sampai tiba waktu kunjungan ke stand UKM. Pasti udah bisa ditebak to, UKM mana yang pertama kali aku cari dan aku kunjungi, jelas UKI dong. Apalagi pada waktu orasi UKM, ketuanya janji bakal ngasih stiker buat 10 pengunjung pertama, makanya aku buru-buru nyari stand UKI. Eh ternyata setelah ketemu, stikernya udah abis. Ya wis lah ngga papa, yang penting aku bisa ketemu sama para aktivis UKI dan aku bisa banyak dapat informasi tentang UKI. "Silahkan duduk De!", Itulah sapaan ramah yang pertama kali kudengar ketika aku sampai di stand UKI. Sambutan hangat dan senyuman yang merekah dari bibir mereka, menambah akrab suasana. Setelah duduk dan ngisi daftar pengunjung stand, baru aku mulai nanya-nanya masalah ke-UKI-an, "Mas kalo UKI acaranya tiap hari apa aja sih? trus kegiatannya apa aja ya?" tanyaku polos (waktu itu aku masih nyamain UKI sama organisasi dakwah di MAN-sekalahanku dulu yang pelaksananannya tiap hari sabtu dan acaranya ada latihan ceramah (muhadloroh), ngaji kitab sama baca "perjanji"). Pertanyaan demi pertanyaan ditanggapinya dengan sabar dan antusias oleh para penjaga stand sambil diiringi lantunan lagu-lagu islami yang kedengarannya agak aneh tapi penuh kedamaian (soale waktu itu aku baru tahu sama yang namanya nasyid), obrolan kami pun mulai melebar dari mulai masalah ke-UKI-an, masalah kehidupan kampus sampai masalah keislaman secara umum. Wah, jadi makin betah aja nih nongkrong di stand UKI dan akhirnya daftar deh aku jadi anggota UKI.
Kesan Pertama Begitu Menggoda
Singkat kata, singkat cerita (lho kok malah jadi nyanyi?), setelah bergabung menjadi anggota UKI, aku mulai ngikut acara-acara yang diadain sama UKI, mulai dari PAI (Pendampingan Agama Islam) yang waktu itu diwajibkan sama dosen agama Islam bagi seluruh mahasiswa muslim dan juga menjadi tugas terstruktur untuk mata kuliah Pendidikan Agama Islam, ada juga PAB (Pembekalan Anggota Baru) yang merupakan ajang rekruitmen bagi para anggota baru, kemudian ada kajian-kajian keislaman yang waktu dulu masih jarang banget diadain sama UKI dan ada juga paling-paling pas Romadhon doang, trus ada LKI 1 (Latihan Kepemimpinan Islam 1) dan LKI 2 (Latihan Kepemimpinan Islam 2) yang merupakan sarana pembekalan skill kepemimpinan dan manajerial para kader UKI, adapun kegiatan yang paling berkesan bagiku adalah kegiatan Mukhoyam (kemah ruhiyah) yang merupakan sarana refresing untuk mentafakuri alam ciptaan Allah SWT dan sekaligus merupakan sarana pembentukan militansi para kader UKI.
Subhanallah euy ternyata aku merasakan "ada sesuatu yang berbeda" ketika aktif di UKI. Aku senantiasa merasakan nuansa kesejukan dalam setiap kegiatannya dengan lingkungannya yang Islami banget, bahkan kalo dibanding Pesantren kayaknya lebih Islami UKI deh (bukannya hiperbolis, gini-gini juga aku sempet mesantren lho! jadi tahu lah yang namanya lingkungan pesantren kayak gimana), aku merasa bahwa lingkungan di UKI bisa mendukung untuk pengembangan kepribadianku, bisa merubah perilakuku dan bisa menjadi sarana kontrol bagi diriku ketika aku melakukan kekhilafan, karena ketika aku bergaul dengan anak-anak UKI yang notabene adalah "orang-orang shaleh", ibaratnya aku sedang bergaul dengan tukang minyak wangi yang walaupun aku tidak ikut jualan, aku pasti bakal kecipratan juga harumnya.
Aku merasa bangga bergabung di komunitas ini, karena ternyata mereka yang aktif di organisasi ini dulunya kebanyakan bukan berasal dari sekolah-sekolah Islam seperti Madrasah Aliyah / SMU Islam, tapi justru mereka kebanyakan berasal dari sekolah-sekolah umum (SMU/SMK). Selain itu, ternyata aku juga berada di tengah-tengah lingkungan orang-orang yang "luar biasa" dalam hal akademis, yang memiliki IP rata-rata tiga koma dan ternyata banyak juga para aktivis UKI yang pada jadi asisten. Makanya, aku merasa beruntung sekali bisa bergabung dalam organisasi ini. Tapi (ada tapinya nih), di sisi lain aku juga merasa minder sekali ketika melihat akhlak dan perilaku mereka yang "ngalim banget", karena ternyata kebanyakan dari mereka lebih mampu menerapkan nilai-nilai Islam dalam kesehariannya, sedangkan aku? aku yang sekolah di MAN dan setiap harinya dicekoki dengan ilmu-ilmu agama bahkan mungkin yang namanya dalil-dalil sampai ngelotok di luar kepala, namun prilaku dan perbuatanku bisa dibilang masih jauh dari nilai-nilai Islam, bahkan jika dibandingkan dengan mereka, mungkin aku tidak lebih baik dari mereka.Astagfirullah.
Aku baru sadar bahwa selama ini aku hanya bisa menghafal ilmu-ilmu agama tanpa mampu mengamalkannya, sedangkan mereka yang meskipun baru tahu sedikit tentang ilmu agama, tapi mereka bisa langsung mengamalkannya dan bahkan ada cerita menarik tentang temanku yang baru mulai ada kesadaran untuk belajar Islam ketika di kampus. Tapi, ternyata setelah aku ajak untuk aktif di kegiatan UKI, beberapa bulan kemudian subhanallah aku melihat ada perubahan yang sangat drastis terjadi, malah ternyata dia jadi lebih "shaleh" daripada aku. Alhamdulillah, secara tidak langsung aku merasakan itu adalah sebuah teguran dari Allah buat diriku. Aku baru sadar bahwa ternyata yang terpenting adalah bukan hanya Ilmu atau pemahaman Islam saja yang harus dimiliki, melainkan wujud nyata dari ilmu tersebut, yaitu dalam bentuk amal sholeh.
Selanjutnya….Terserah yang Nulis
Namun seiring perjalanan waktu, ternyata masa-masa indah yang kualami di UKI begitu singkat kurasakan, karena statusku harus berubah dari yang awalnya hanya sebagai penikmat dakwah (objek dakwah), kemudian harus menjadi pelaku dakwah (subjek dakwah) dengan menjadi pengurus UKI. Ada perbedaan yang sangat significant ketika aku masih menjadi anggota dan ketika aku telah menjadi pengurus, seperti halnya seorang pendaki gunung yang awalnya melihat gunung yang akan didakinya dari bawah begitu indah, padahal ketika dia mulai mendaki gunung tersebut, barulah dia sadar kalau gunung itu ternyata sangat terjal dan curam dan untuk mencapai puncak gunung tersebut nyawa pun jadi taruhannya.
Kebetulan ketika itu aku diamanahi menjadi ketua bidang (Kabid) pembinaan, aku baru bisa merasakan betapa beratnya beban ketika menjadi seorang pengurus. Sewaktu aku masih jadi anggota, aku paling sering mengkritik segala kekurangan para pengurus UKI, aku juga sering memberikan ide ataupun gagasan buat UKI ke depan (gayane sok idealis), padahal mungkin kalo waktu itu aku yang jadi pengurus kayaknya aku juga belum tentu aku bisa melakukannya lho. Di bidang pembinaan, aku punya 6 orang staf (3 orang ikhwan dan 3 orang akhwat). Awalnya sih kita masih bisa solid, rapat-rapat masih sering dilakukan dan selalu bisa hadir semua (maklum kita harus sering bahas-bahas konsep), kalo ada kegiatan apapun semuanya bisa terlibat dan semuanya bisa bekerja sama tur sama-sama kerja. Tapi ternyata lama kelamaan tiap personel mulai pada "sok sibuk" dengan aktifitasnya masing-masing, rapat-rapat sudah mulai jarang dan belum pernah bisa hadir semua dengan alasan kuliah lah, praktikum lah, garap tugas/laporan lah, atau ada kegiatan di UKM lain lah dan bermacam alesan lain.
Puncaknya pada pertengahan kepengurusan, permasalahan demi permasalahan mulai bermunculan, diantaranya aku harus merelakan kehilangan satu orang akhwat mitra kerjaku, yang mundur dari kepengurusan karena dia bermasud "menggenapkan Diennya" dan setelah itu dia akan ngambil cuti. Kemudian waktu itu yang masih bisa kuajak kerjasama dan sama-sama kerja hanya pengurus akhwatnya, soale para ikhwannya dah pada dapet amanah yang lebih penting di organisasi lain baik yang di dalam atau di luar kampus, sehingga praktis untuk pembinaan ikhwannya aku jadi single fighter. Makanya, tiap kegiatan yang diadain sama bidang pembinaan yang sering nongol aku lagi-aku lagi (mungkin sampe angkatan 2000 pada bosen kali liatnya juga). Ternyata dengan kondisi bidang yang demikian ditambah dengan permasalahan kader yang jumlahnya banyak dan harus segera dibina dan diberdayakan. Itu baru di intern bidangku, belum lagi permalahan yang ada di UKI secara keseluruhan dari mulai proses pembinaan terhadap para pengurus yang tidak berjalan, kontrol pimpinan yang lemah, kurangnya komitmen dari para pengurus untuk mengemban amanah, kurangnya kekompakan dan kebersamaan dari para pengurus, kurangnya inisiatif dari para pengurus, dan masih banyak lagi permasalahan lainnya. Wah ternyata UKI isinya masalah doang nih.
Kadang muncul kebosanan atau kejenuhan dalam beraktifitas, ketika aku dan teman-teman di bidang pembinaan sudah berupaya semaksimal mungkin mengeluarkan segenap potensi dan kemampuan yang kami miliki, mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran, tapi ternyata hasilnya sering tidak sesuai harapan, kadang muncul keinginan untuk lari dari tanggung jawab ketika permasalahan yang ada tak pernah kunjung selesai, karena yang terjadi justru permasalahan tersebut bukan semakin berkurang tapi kian hari malah kian bertambah. Tapi, aku sadar kalau aku lari dari dakwah, maka itu bukanlah solusi, aku juga sadar kalau aku lepas dari dakwah, maka aku akan kembali seperti aku yang dulu yang sangat jauh dari nilai-nilai Islam. Itulah gambaran dari betapa terjal dan curamnya jalan dakwah yang kudaki ketika aku tengah berada di atas ketinggian tertentu yang apabila aku memutuskan untuk menghentikan pendakianku dan bergantung di tengah gunung tersebut atau aku memutuskan untuk terjun ke bawah, maka aku akan mati.
Begitu menjelang akhir kepengurusan, aku merasa lega karena amanahku akan segera berakhir dan yang terpenting adalah program kerjaku bisa terlaksana semua, waktu itu aku ngga peduli sama yang namanya kualitas atau apakah ada dampaknya untuk bisa mewarnai kehidupan kampus dengan nilai-nilai Islam (padahal seharusnya inilah yang paling penting). Namun, maksud hati ingin bebas dari tanggung jawab sebagai pengurus, tapi justru aku malah dipercaya untuk memegang amanah yang lebih berat lagi atau istilahnya keluar dari mulut singa, masuk ke mulut buaya. Karena ketika di forum MUSANG (Musyawarah Anggota), ternyata formatur menunjuk aku menjadi salah satu calon ketua umum UKI bersama saudara "kembarku" Akh Cahyo (kata orang-orang sih mirip sama aku) dan Akh Slamet. Ternyata, pada waktu pemilihan tersebut musibah itu pun menimpaku dan aku memperoleh suara terbanyak dalam pemilihan ketua umum UKI periode 2002/2003.
Innalillahi wa inna ilaihi rooji`un, itulah ungkapan yang pertama kali keluar dari mulutku ketika aku menyampaikan sambutan atas terpilihnya aku menjadi ketua umum UKI periode 2003/2004. Hari-hariku menjadi semakin berat setelah aku menjadi ketua UKI, karena aku harus menjadi teladan bagi pengurus yang lain terlebih bagi para anggota UKI, aku yang tadinya terkenal dengan sebutan Mahasiswa Telatan (karena setiap kuliah, selalu telat masuk kelas), belum bisa memanage waktu dengan baik dan masih buanyak perilaku-perilaku lain dalam diriku yang tidak patut untuk dicontoh. Maka mulai detik itu, aku dipaksa berubah untuk menjadi Mahasiswa Teladan (cie), aku tidak boleh terlambat lagi masuk kelas, aku tidak boleh memberi contoh yang tidak baik buat temen-temen sekelasku, wabil khusus buat para pengurus dan anggota UKI.
Antum bisa bayangkan bagaimana mumetnya memimpin organisasi yang cukup besar dengan jumlah pengurus + 49 orang dan jumlah kadernya + 150 orang. Berbagai masalah datang silih berganti semasa aku menjabat sebagai ketua UKI, yang tentunya dengan kapasitas yang lebih berat dibanding ketika aku masih menjadi Kabid. Mulai dari masalah egoisme bidang bidang (dimana setiap bidang waktu itu hanya mementingkan program bidang mereka saja)., adanya pengurus yang kena "virus merah jambu", adanya perbedaan pemahaman, selain itu banyak juga kritikan yang ditujukan terhadap ketua yang hanya mengedepankan hubungan formal (kurang silaturrahmi) dan kurang merakyat, gaya kepemimpinan yang terlalu otoriter, tidak tegas dalam mengambil keputusan dan lain sebagainya. Perlu diketahui, ternyata aku juga harus mengurusi permasalahan eksternal. Bagaimana masalah budgeting dana BEM, hubungan UKI dengan UKM lain dan HMPS, dengan pembina, dengan UKI-UKI fakultas lain, dengan UKKI dan masih banyak lagi.
Sebenarnya dari sekian banyak permasalahan yang ada tersebut, ada satu permasalahan yang sampai sekarang masih menyisakan kenangan pahit dalam sejarah kepemimpinanku yaitu masalah Iqob (denda), awalnya aku punya keyakinan kalau kebijakan itu bisa memacu para pengurus untuk hadir dalam setiap rapat. Memang pertamanya sih cukup efektif, tapi lama-kelamaan hal itu seolah menjadi momok yang menakutkan bagi para pengurus UKI, sampai-sampai ada yang berniat mundur dari kepengurusan UKI akibat adanya kebijakan tentang iqob. Maka pembahasan tentang Iqobpun diangkat dalam rapat pengurus, rapat yang cukup alot tersebut berakhir dengan keputusan iqob tetap diberlakukan tapi bukan dalam bentuk materi. Tapi, ternyata kenyataan di lapangannya malah tidak diterapkan. Kadang kalau aku teringat masa-masa itu, aku suka ingin menertawakan diriku sendiri sebagai seorang pemimpin yang tidak becus memecahkan permasalahan tersebut. Meskipun demikian aku selalu berharap ada sebuah pemakluman dari para pengurus dengan dalih "proses".
Semakin Lama, Semakin Kutemukan Keindahannya
Segala kesulitan yang kualami di UKI ternyata tidak sia-sia, karena dengan semakin keras aku ditempa dan dibenturkan dengan berbagai permasalahan da`wah yang ada di UKI, justru semakin terbentuk kepribadianku. Dari sanalah aku digembleng untuk benar-benar menjadi seorang "pemimpin" yang harus senantiasa siap menerima kritik, yang harus mampu berperan sebagai solutor atas segala permasalahan organisasi, yang harus mampu mengambil sebuah keputusan secara tepat dan cepat, yang harus mampu memberikan arahan kepada yang dipimpin, dsb. Sehingga, tuntutan untuk senantiasa bersabar dalam menghadapi berbagai permasalahan adalah sebuah keniscayaan dalam da`wah.
Siapapun takkan pernah bisa bertahan
Mengarungi jalan da`wah ini
Kecuali dengan ketabahan, kecuali dengan kesabaran
(Izzatul Islam)
Mungkin dari apa yang aku paparkan di awal, kayaknya terlalu banyak yang ngga enaknya yah..??? Eit… tungggu dulu atuh, antum perlu tahu keindahan yang kutemukan ketika aku mulai bisa mencapai dasar "lautan" da`wah. Justru semakin aku tenggelam dalam aktivitas da`wah, semakin banyak aku menemukan pesona keindahan di dalamnya. Keindahan yang kumaksud adalah ukhuwah, ya inilah keindahan yang kutemukan. Aku merasa ada ikatan hati yang sangat kuat di antara kami, ikatan yang disatukan oleh aqidah. Semakin lama aku berinteraksi dengan saudara-saudaraku di UKI, semakin erat jalinan ukhuwah diantara kami sehingga aku bisa benar-benar merasakan kehangatan ketika bersama dan selalu ada kerinduan tuk senantiasa berjumpa. Ah…jadi inget sebuah sya`ir yang dilantunkan oleh Tim Nasyid Suara Persaudaraan "Tiada Kata Indah Seindah Kata Ukhuwah, dalam sebuah jalinan persaudaraan Islam". Ternyata
Selain itu, aku juga bisa merasakan percikan kesegaran dari aktifitas tarbiyahku dalam sebuah forum yang dikenal dengan istilah liqo` (pertemuan) atau SII (Studi Islam Intensif). Ketika kegersangan melanda aktivitas da`wahku dan kejenuhan menyapaku, di forum inilah aku bisa mencharge ruhiyah yang aqwi tausyiah atau taujih dari para tentornya, di forum ini aku bisa bercermin diri pada saudara-saudaraku, tentang perkembangan tilawah Al-Qur`an dan hafalannya, tentang shalat malam dan tentang puasa sunnah. Semangatku tergugah ketika mendengar saudaraku yang lain menyalip amal-amal harianku, aku merasa malu ketika mendapati diriku tidak bisa mengatur waktu. Kami saling berbagi permasalahan agar masalah tak sendiri dihadapi, kami juga saling bercerita tentang amanah-amanah da`wah masing-masing yang semakin mengasyikan atau mungkin semakin menantang. Kadang kami mengganti setting forumnya dengan menginap di musholla sehingga kami bisa melaksanakan qiyamullail secara berjamaah atau dengan rekreasi ke tempat-tempat yang bisa mengingat dan mengagumi kebesaran ciptaan-Nya. Subhanallah…, aku merasa ini adalah keindahan yang baru kutemukan bersama saudara-saudaraku di UKI. Ini adalah forum refleksi jiwa, percepatan perbaikan diri, peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah dan tanpa aku sadari pula bahwa pertemuan yang hanya sesaar demi sesaat dalam forum ini juga bisa menjadi sarana penjaga konsistensi dan sikap istiqomah. Aku bisa memastikan jika antum hanya melakukan aktifitas dakwah saja, tanpa diimbangi dengan keterlibatan antum dalam aktifitas tarbiyah, maka yang terjadi adalah antum akan Muntaber (Mundur Tanpa Berita) dari UKI.
Biarlah Menjadi Sebuah Refleksi
Tak terasa waktu berlalu begitu cepatnya, dan akupun harus mengakhiri masa jabatanku sebagai ketua UKI untuk mempertanggungjawabkan di forum MUSANG (Musyawarah Anggota), alhamdulillah akhirnya selesai juga amanahku yang cukup berat tersebut. Seperti biasa LPJ pasti diterima dengan catatan, ya catatan yang hampir sama dengan catatan kepengurusan sebelumnya. Artinya kesalahan yang dilakukan oleh kepengurusan sebelumnya harus terulang kembali di kepengurusan berikutnya. Mengapa hal ini terjadi, selidik punya selidik ternyata catatan-catatan evaluasi dari kepengurusan sebelumnya tidak pernah terdokumentasikan apalagi tertransformasikan ke pengurus berikutnya, makanya wajar kalo ternyata kesalahan itu terulang kembali.
Pasca amanah sebagai ketua, aku dipercaya lagi untuk menjadi DPO (Dewan Pertimbangan Organisasi), yaitu suatu badan yang bertugas memberikan pertimbangan, saran dan masukan serta melakukan pengawasan terhadap kepengurusan UKI. Di forum ini aku dan para orang-orang tua di UKI hanya berperan sebagai pengamat dan menjadi komentator atas semua proses yang terjadi dalam kepengurusan UKI. Kami memberikan pertimbangan, saran dan masukan tersebut tentunya berdasarkan pengalaman kami sebagai pengurus UKI selama dua periode berturut turut dan di forum ini pula aku dan personil DPO yang lain bisa bernostalgia dengan masa lalu kami selama di UKI.
Kini, aku bukan siapa-siapa lagi di UKI, karena aku telah lulus dan meraih gelar S.Pt (Sarjana Peternakan). Meskipun demikian, aku takkan pernah melupakan UKI, karena aku telah dibesarkan di UKI, karena UKI telah memberikan makna tersendiri dalam hidupku dan telah menghiasi perjalanan hidupku, karena aku banyak mengalami banyak perubahan melalui UKI, karena aku banyak mendapatkan saudara di UKI. Aku baru menyadari bahwa slogan yang selama ini digembor-gemborkan tentang "UKI bukanlah segalanya, tapi segalanya bisa jadi bermula dari UKI" ternyata benar-benar baru kurasakan saat ini. Betapa banyak kenangan-kenangan indah yang tidak mungkin bisa kuungkapkan semuanya di sini, namun cukup bagian yang penting-pentingnya saja yang kutampilkan. Semoga tulisanku ini bisa menjadi bahan refleksi terhadap perjalanan UKI semenjak aku mulai masuk di kampus ini hingga sekarang.
Aku yakin banyak pelajaran yang bisa diambil dan bisa dijadikan sebagai bahan introspeksi dari catatan ini. Harapanku semoga dari pengalaman tersebut, di kemudian hari adik-adikku bisa menyusun langkah yang lebih baik untuk perkembangan UKI di masa mendatang. Meskipun kuakui bahwa generasiku belum bisa mencapai puncak dari sebuah perjuangan. Tapi aku tsiqoh (percaya) pada generasi penerusku, Insyaallah mereka mampu melanjutkan perjuangan yang masih teramat panjang tersebut. Syekh Mustafa Masyhur telah menyatakan : Daurua qod madha wasa`ti daurukum (era kami telah lewat dan akan datang era kalian). Oleh karena itu saudaraku, memperhatikan besarnya tanggung jawab antum terhadap dakwah saat ini, maka perlu kiranya disikapi dengan sebuah tekad : berjalanlah dan jangan berhenti!
Kan melangkah kaki dengan pasti
Menerobos semua onak duri
Generasi baru yang tlah dinanti
Tak takut dicaci tak gentar mati
……
Takkan surut walau selangkah
Takkan henti walau sejenak
Cita kami hidup mulia atau syahid menggapai Syurga
(Shoutul Harokah)
penulis adalah ketua UKI periode 2002-2003/ DPO 2003-2004
Oleh : Agung Gurnita
Awal Persentuhanku dengan UKI
Ketika aku mulai menginjakkan kaki di "kota mendoan" Purwokerto, sebenarnya aku sudah kenal sama UKI (Unit Kerohanian Islam) yang katanya merupakan organisasi keislaman yang ada di tiap fakultas, termasuk Fakultas Peternakan. Aku mulai tahu banyak tentang UKI dari para aktivis UKI yang pertama kali kukenal, pertama adalah kang Agus Budiman, aku kenal dia sewaktu aku registrasi PMDK, trus kang Ali Kurniawan, dia adalah ketua UKI waktu itu yang kukenal sewaktu ada acara silaturrahmi dengan para mahasiswa baru di Masjid Kampus "Nurul Ulum", selanjutnya kang Rano Karno "Muhamad Bilal" yang kukenal sewaktu aku ngetik tugas OSPEK di Misykah Komputer (yang sampe sekarang jadi rental komputer langgananku). Merekalah orang-orang pertama yang mengenalkan aku pada UKI sehingga aku "terjerumus" ke dalamnya.
Perkenalanku dengan UKI berlanjut saat acara "AKSI 99" (OSPEKnya Fakultas Peternakan tempo dulu). Waktu itu aku juga dikenalkan dengan UKI oleh mbak pendamping OSPEK-ku yang kebetulan dia juga aktivis UKI, mba Ocha namanya. Sampai kemudian pada hari terakhir OSPEK, lewat acara pengenalan UKM. Aku melihat banyak UKM yang mencoba untuk TTP (Tebar-Tebar Pesona) kepada para mahasiswa baru. Ternyata, dari sekian banyak UKM yang ada, tidak ada satupun UKM yang mampu "mencuri hatiku" , karena terus terang aja waktu itu pilihanku udah ngga bisa ke lain hati deh. Memang kuakui, UKI adalah satu-satunya UKM yang berbeda dengan yang lain, karena tampilannya yang penuh dengan kesejukan, wajah-wajah para aktivisnya yang bercahaya dan penuh keteduhan ditambah lagi dengan jilbab para akhwatnya yang melambai-lambai dengan anggunnya membuat hatiku semakin terbuai (eh, jadi inget sama lagu qosidah Jilbab Putih), yang jelas saat itu aku merasa yakin bahwa inilah organisasi yang cocok buatku.
Sampai tiba waktu kunjungan ke stand UKM. Pasti udah bisa ditebak to, UKM mana yang pertama kali aku cari dan aku kunjungi, jelas UKI dong. Apalagi pada waktu orasi UKM, ketuanya janji bakal ngasih stiker buat 10 pengunjung pertama, makanya aku buru-buru nyari stand UKI. Eh ternyata setelah ketemu, stikernya udah abis. Ya wis lah ngga papa, yang penting aku bisa ketemu sama para aktivis UKI dan aku bisa banyak dapat informasi tentang UKI. "Silahkan duduk De!", Itulah sapaan ramah yang pertama kali kudengar ketika aku sampai di stand UKI. Sambutan hangat dan senyuman yang merekah dari bibir mereka, menambah akrab suasana. Setelah duduk dan ngisi daftar pengunjung stand, baru aku mulai nanya-nanya masalah ke-UKI-an, "Mas kalo UKI acaranya tiap hari apa aja sih? trus kegiatannya apa aja ya?" tanyaku polos (waktu itu aku masih nyamain UKI sama organisasi dakwah di MAN-sekalahanku dulu yang pelaksananannya tiap hari sabtu dan acaranya ada latihan ceramah (muhadloroh), ngaji kitab sama baca "perjanji"). Pertanyaan demi pertanyaan ditanggapinya dengan sabar dan antusias oleh para penjaga stand sambil diiringi lantunan lagu-lagu islami yang kedengarannya agak aneh tapi penuh kedamaian (soale waktu itu aku baru tahu sama yang namanya nasyid), obrolan kami pun mulai melebar dari mulai masalah ke-UKI-an, masalah kehidupan kampus sampai masalah keislaman secara umum. Wah, jadi makin betah aja nih nongkrong di stand UKI dan akhirnya daftar deh aku jadi anggota UKI.
Kesan Pertama Begitu Menggoda
Singkat kata, singkat cerita (lho kok malah jadi nyanyi?), setelah bergabung menjadi anggota UKI, aku mulai ngikut acara-acara yang diadain sama UKI, mulai dari PAI (Pendampingan Agama Islam) yang waktu itu diwajibkan sama dosen agama Islam bagi seluruh mahasiswa muslim dan juga menjadi tugas terstruktur untuk mata kuliah Pendidikan Agama Islam, ada juga PAB (Pembekalan Anggota Baru) yang merupakan ajang rekruitmen bagi para anggota baru, kemudian ada kajian-kajian keislaman yang waktu dulu masih jarang banget diadain sama UKI dan ada juga paling-paling pas Romadhon doang, trus ada LKI 1 (Latihan Kepemimpinan Islam 1) dan LKI 2 (Latihan Kepemimpinan Islam 2) yang merupakan sarana pembekalan skill kepemimpinan dan manajerial para kader UKI, adapun kegiatan yang paling berkesan bagiku adalah kegiatan Mukhoyam (kemah ruhiyah) yang merupakan sarana refresing untuk mentafakuri alam ciptaan Allah SWT dan sekaligus merupakan sarana pembentukan militansi para kader UKI.
Subhanallah euy ternyata aku merasakan "ada sesuatu yang berbeda" ketika aktif di UKI. Aku senantiasa merasakan nuansa kesejukan dalam setiap kegiatannya dengan lingkungannya yang Islami banget, bahkan kalo dibanding Pesantren kayaknya lebih Islami UKI deh (bukannya hiperbolis, gini-gini juga aku sempet mesantren lho! jadi tahu lah yang namanya lingkungan pesantren kayak gimana), aku merasa bahwa lingkungan di UKI bisa mendukung untuk pengembangan kepribadianku, bisa merubah perilakuku dan bisa menjadi sarana kontrol bagi diriku ketika aku melakukan kekhilafan, karena ketika aku bergaul dengan anak-anak UKI yang notabene adalah "orang-orang shaleh", ibaratnya aku sedang bergaul dengan tukang minyak wangi yang walaupun aku tidak ikut jualan, aku pasti bakal kecipratan juga harumnya.
Aku merasa bangga bergabung di komunitas ini, karena ternyata mereka yang aktif di organisasi ini dulunya kebanyakan bukan berasal dari sekolah-sekolah Islam seperti Madrasah Aliyah / SMU Islam, tapi justru mereka kebanyakan berasal dari sekolah-sekolah umum (SMU/SMK). Selain itu, ternyata aku juga berada di tengah-tengah lingkungan orang-orang yang "luar biasa" dalam hal akademis, yang memiliki IP rata-rata tiga koma dan ternyata banyak juga para aktivis UKI yang pada jadi asisten. Makanya, aku merasa beruntung sekali bisa bergabung dalam organisasi ini. Tapi (ada tapinya nih), di sisi lain aku juga merasa minder sekali ketika melihat akhlak dan perilaku mereka yang "ngalim banget", karena ternyata kebanyakan dari mereka lebih mampu menerapkan nilai-nilai Islam dalam kesehariannya, sedangkan aku? aku yang sekolah di MAN dan setiap harinya dicekoki dengan ilmu-ilmu agama bahkan mungkin yang namanya dalil-dalil sampai ngelotok di luar kepala, namun prilaku dan perbuatanku bisa dibilang masih jauh dari nilai-nilai Islam, bahkan jika dibandingkan dengan mereka, mungkin aku tidak lebih baik dari mereka.Astagfirullah.
Aku baru sadar bahwa selama ini aku hanya bisa menghafal ilmu-ilmu agama tanpa mampu mengamalkannya, sedangkan mereka yang meskipun baru tahu sedikit tentang ilmu agama, tapi mereka bisa langsung mengamalkannya dan bahkan ada cerita menarik tentang temanku yang baru mulai ada kesadaran untuk belajar Islam ketika di kampus. Tapi, ternyata setelah aku ajak untuk aktif di kegiatan UKI, beberapa bulan kemudian subhanallah aku melihat ada perubahan yang sangat drastis terjadi, malah ternyata dia jadi lebih "shaleh" daripada aku. Alhamdulillah, secara tidak langsung aku merasakan itu adalah sebuah teguran dari Allah buat diriku. Aku baru sadar bahwa ternyata yang terpenting adalah bukan hanya Ilmu atau pemahaman Islam saja yang harus dimiliki, melainkan wujud nyata dari ilmu tersebut, yaitu dalam bentuk amal sholeh.
Selanjutnya….Terserah yang Nulis
Namun seiring perjalanan waktu, ternyata masa-masa indah yang kualami di UKI begitu singkat kurasakan, karena statusku harus berubah dari yang awalnya hanya sebagai penikmat dakwah (objek dakwah), kemudian harus menjadi pelaku dakwah (subjek dakwah) dengan menjadi pengurus UKI. Ada perbedaan yang sangat significant ketika aku masih menjadi anggota dan ketika aku telah menjadi pengurus, seperti halnya seorang pendaki gunung yang awalnya melihat gunung yang akan didakinya dari bawah begitu indah, padahal ketika dia mulai mendaki gunung tersebut, barulah dia sadar kalau gunung itu ternyata sangat terjal dan curam dan untuk mencapai puncak gunung tersebut nyawa pun jadi taruhannya.
Kebetulan ketika itu aku diamanahi menjadi ketua bidang (Kabid) pembinaan, aku baru bisa merasakan betapa beratnya beban ketika menjadi seorang pengurus. Sewaktu aku masih jadi anggota, aku paling sering mengkritik segala kekurangan para pengurus UKI, aku juga sering memberikan ide ataupun gagasan buat UKI ke depan (gayane sok idealis), padahal mungkin kalo waktu itu aku yang jadi pengurus kayaknya aku juga belum tentu aku bisa melakukannya lho. Di bidang pembinaan, aku punya 6 orang staf (3 orang ikhwan dan 3 orang akhwat). Awalnya sih kita masih bisa solid, rapat-rapat masih sering dilakukan dan selalu bisa hadir semua (maklum kita harus sering bahas-bahas konsep), kalo ada kegiatan apapun semuanya bisa terlibat dan semuanya bisa bekerja sama tur sama-sama kerja. Tapi ternyata lama kelamaan tiap personel mulai pada "sok sibuk" dengan aktifitasnya masing-masing, rapat-rapat sudah mulai jarang dan belum pernah bisa hadir semua dengan alasan kuliah lah, praktikum lah, garap tugas/laporan lah, atau ada kegiatan di UKM lain lah dan bermacam alesan lain.
Puncaknya pada pertengahan kepengurusan, permasalahan demi permasalahan mulai bermunculan, diantaranya aku harus merelakan kehilangan satu orang akhwat mitra kerjaku, yang mundur dari kepengurusan karena dia bermasud "menggenapkan Diennya" dan setelah itu dia akan ngambil cuti. Kemudian waktu itu yang masih bisa kuajak kerjasama dan sama-sama kerja hanya pengurus akhwatnya, soale para ikhwannya dah pada dapet amanah yang lebih penting di organisasi lain baik yang di dalam atau di luar kampus, sehingga praktis untuk pembinaan ikhwannya aku jadi single fighter. Makanya, tiap kegiatan yang diadain sama bidang pembinaan yang sering nongol aku lagi-aku lagi (mungkin sampe angkatan 2000 pada bosen kali liatnya juga). Ternyata dengan kondisi bidang yang demikian ditambah dengan permasalahan kader yang jumlahnya banyak dan harus segera dibina dan diberdayakan. Itu baru di intern bidangku, belum lagi permalahan yang ada di UKI secara keseluruhan dari mulai proses pembinaan terhadap para pengurus yang tidak berjalan, kontrol pimpinan yang lemah, kurangnya komitmen dari para pengurus untuk mengemban amanah, kurangnya kekompakan dan kebersamaan dari para pengurus, kurangnya inisiatif dari para pengurus, dan masih banyak lagi permasalahan lainnya. Wah ternyata UKI isinya masalah doang nih.
Kadang muncul kebosanan atau kejenuhan dalam beraktifitas, ketika aku dan teman-teman di bidang pembinaan sudah berupaya semaksimal mungkin mengeluarkan segenap potensi dan kemampuan yang kami miliki, mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran, tapi ternyata hasilnya sering tidak sesuai harapan, kadang muncul keinginan untuk lari dari tanggung jawab ketika permasalahan yang ada tak pernah kunjung selesai, karena yang terjadi justru permasalahan tersebut bukan semakin berkurang tapi kian hari malah kian bertambah. Tapi, aku sadar kalau aku lari dari dakwah, maka itu bukanlah solusi, aku juga sadar kalau aku lepas dari dakwah, maka aku akan kembali seperti aku yang dulu yang sangat jauh dari nilai-nilai Islam. Itulah gambaran dari betapa terjal dan curamnya jalan dakwah yang kudaki ketika aku tengah berada di atas ketinggian tertentu yang apabila aku memutuskan untuk menghentikan pendakianku dan bergantung di tengah gunung tersebut atau aku memutuskan untuk terjun ke bawah, maka aku akan mati.
Begitu menjelang akhir kepengurusan, aku merasa lega karena amanahku akan segera berakhir dan yang terpenting adalah program kerjaku bisa terlaksana semua, waktu itu aku ngga peduli sama yang namanya kualitas atau apakah ada dampaknya untuk bisa mewarnai kehidupan kampus dengan nilai-nilai Islam (padahal seharusnya inilah yang paling penting). Namun, maksud hati ingin bebas dari tanggung jawab sebagai pengurus, tapi justru aku malah dipercaya untuk memegang amanah yang lebih berat lagi atau istilahnya keluar dari mulut singa, masuk ke mulut buaya. Karena ketika di forum MUSANG (Musyawarah Anggota), ternyata formatur menunjuk aku menjadi salah satu calon ketua umum UKI bersama saudara "kembarku" Akh Cahyo (kata orang-orang sih mirip sama aku) dan Akh Slamet. Ternyata, pada waktu pemilihan tersebut musibah itu pun menimpaku dan aku memperoleh suara terbanyak dalam pemilihan ketua umum UKI periode 2002/2003.
Innalillahi wa inna ilaihi rooji`un, itulah ungkapan yang pertama kali keluar dari mulutku ketika aku menyampaikan sambutan atas terpilihnya aku menjadi ketua umum UKI periode 2003/2004. Hari-hariku menjadi semakin berat setelah aku menjadi ketua UKI, karena aku harus menjadi teladan bagi pengurus yang lain terlebih bagi para anggota UKI, aku yang tadinya terkenal dengan sebutan Mahasiswa Telatan (karena setiap kuliah, selalu telat masuk kelas), belum bisa memanage waktu dengan baik dan masih buanyak perilaku-perilaku lain dalam diriku yang tidak patut untuk dicontoh. Maka mulai detik itu, aku dipaksa berubah untuk menjadi Mahasiswa Teladan (cie), aku tidak boleh terlambat lagi masuk kelas, aku tidak boleh memberi contoh yang tidak baik buat temen-temen sekelasku, wabil khusus buat para pengurus dan anggota UKI.
Antum bisa bayangkan bagaimana mumetnya memimpin organisasi yang cukup besar dengan jumlah pengurus + 49 orang dan jumlah kadernya + 150 orang. Berbagai masalah datang silih berganti semasa aku menjabat sebagai ketua UKI, yang tentunya dengan kapasitas yang lebih berat dibanding ketika aku masih menjadi Kabid. Mulai dari masalah egoisme bidang bidang (dimana setiap bidang waktu itu hanya mementingkan program bidang mereka saja)., adanya pengurus yang kena "virus merah jambu", adanya perbedaan pemahaman, selain itu banyak juga kritikan yang ditujukan terhadap ketua yang hanya mengedepankan hubungan formal (kurang silaturrahmi) dan kurang merakyat, gaya kepemimpinan yang terlalu otoriter, tidak tegas dalam mengambil keputusan dan lain sebagainya. Perlu diketahui, ternyata aku juga harus mengurusi permasalahan eksternal. Bagaimana masalah budgeting dana BEM, hubungan UKI dengan UKM lain dan HMPS, dengan pembina, dengan UKI-UKI fakultas lain, dengan UKKI dan masih banyak lagi.
Sebenarnya dari sekian banyak permasalahan yang ada tersebut, ada satu permasalahan yang sampai sekarang masih menyisakan kenangan pahit dalam sejarah kepemimpinanku yaitu masalah Iqob (denda), awalnya aku punya keyakinan kalau kebijakan itu bisa memacu para pengurus untuk hadir dalam setiap rapat. Memang pertamanya sih cukup efektif, tapi lama-kelamaan hal itu seolah menjadi momok yang menakutkan bagi para pengurus UKI, sampai-sampai ada yang berniat mundur dari kepengurusan UKI akibat adanya kebijakan tentang iqob. Maka pembahasan tentang Iqobpun diangkat dalam rapat pengurus, rapat yang cukup alot tersebut berakhir dengan keputusan iqob tetap diberlakukan tapi bukan dalam bentuk materi. Tapi, ternyata kenyataan di lapangannya malah tidak diterapkan. Kadang kalau aku teringat masa-masa itu, aku suka ingin menertawakan diriku sendiri sebagai seorang pemimpin yang tidak becus memecahkan permasalahan tersebut. Meskipun demikian aku selalu berharap ada sebuah pemakluman dari para pengurus dengan dalih "proses".
Semakin Lama, Semakin Kutemukan Keindahannya
Segala kesulitan yang kualami di UKI ternyata tidak sia-sia, karena dengan semakin keras aku ditempa dan dibenturkan dengan berbagai permasalahan da`wah yang ada di UKI, justru semakin terbentuk kepribadianku. Dari sanalah aku digembleng untuk benar-benar menjadi seorang "pemimpin" yang harus senantiasa siap menerima kritik, yang harus mampu berperan sebagai solutor atas segala permasalahan organisasi, yang harus mampu mengambil sebuah keputusan secara tepat dan cepat, yang harus mampu memberikan arahan kepada yang dipimpin, dsb. Sehingga, tuntutan untuk senantiasa bersabar dalam menghadapi berbagai permasalahan adalah sebuah keniscayaan dalam da`wah.
Siapapun takkan pernah bisa bertahan
Mengarungi jalan da`wah ini
Kecuali dengan ketabahan, kecuali dengan kesabaran
(Izzatul Islam)
Mungkin dari apa yang aku paparkan di awal, kayaknya terlalu banyak yang ngga enaknya yah..??? Eit… tungggu dulu atuh, antum perlu tahu keindahan yang kutemukan ketika aku mulai bisa mencapai dasar "lautan" da`wah. Justru semakin aku tenggelam dalam aktivitas da`wah, semakin banyak aku menemukan pesona keindahan di dalamnya. Keindahan yang kumaksud adalah ukhuwah, ya inilah keindahan yang kutemukan. Aku merasa ada ikatan hati yang sangat kuat di antara kami, ikatan yang disatukan oleh aqidah. Semakin lama aku berinteraksi dengan saudara-saudaraku di UKI, semakin erat jalinan ukhuwah diantara kami sehingga aku bisa benar-benar merasakan kehangatan ketika bersama dan selalu ada kerinduan tuk senantiasa berjumpa. Ah…jadi inget sebuah sya`ir yang dilantunkan oleh Tim Nasyid Suara Persaudaraan "Tiada Kata Indah Seindah Kata Ukhuwah, dalam sebuah jalinan persaudaraan Islam". Ternyata
Selain itu, aku juga bisa merasakan percikan kesegaran dari aktifitas tarbiyahku dalam sebuah forum yang dikenal dengan istilah liqo` (pertemuan) atau SII (Studi Islam Intensif). Ketika kegersangan melanda aktivitas da`wahku dan kejenuhan menyapaku, di forum inilah aku bisa mencharge ruhiyah yang aqwi tausyiah atau taujih dari para tentornya, di forum ini aku bisa bercermin diri pada saudara-saudaraku, tentang perkembangan tilawah Al-Qur`an dan hafalannya, tentang shalat malam dan tentang puasa sunnah. Semangatku tergugah ketika mendengar saudaraku yang lain menyalip amal-amal harianku, aku merasa malu ketika mendapati diriku tidak bisa mengatur waktu. Kami saling berbagi permasalahan agar masalah tak sendiri dihadapi, kami juga saling bercerita tentang amanah-amanah da`wah masing-masing yang semakin mengasyikan atau mungkin semakin menantang. Kadang kami mengganti setting forumnya dengan menginap di musholla sehingga kami bisa melaksanakan qiyamullail secara berjamaah atau dengan rekreasi ke tempat-tempat yang bisa mengingat dan mengagumi kebesaran ciptaan-Nya. Subhanallah…, aku merasa ini adalah keindahan yang baru kutemukan bersama saudara-saudaraku di UKI. Ini adalah forum refleksi jiwa, percepatan perbaikan diri, peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah dan tanpa aku sadari pula bahwa pertemuan yang hanya sesaar demi sesaat dalam forum ini juga bisa menjadi sarana penjaga konsistensi dan sikap istiqomah. Aku bisa memastikan jika antum hanya melakukan aktifitas dakwah saja, tanpa diimbangi dengan keterlibatan antum dalam aktifitas tarbiyah, maka yang terjadi adalah antum akan Muntaber (Mundur Tanpa Berita) dari UKI.
Biarlah Menjadi Sebuah Refleksi
Tak terasa waktu berlalu begitu cepatnya, dan akupun harus mengakhiri masa jabatanku sebagai ketua UKI untuk mempertanggungjawabkan di forum MUSANG (Musyawarah Anggota), alhamdulillah akhirnya selesai juga amanahku yang cukup berat tersebut. Seperti biasa LPJ pasti diterima dengan catatan, ya catatan yang hampir sama dengan catatan kepengurusan sebelumnya. Artinya kesalahan yang dilakukan oleh kepengurusan sebelumnya harus terulang kembali di kepengurusan berikutnya. Mengapa hal ini terjadi, selidik punya selidik ternyata catatan-catatan evaluasi dari kepengurusan sebelumnya tidak pernah terdokumentasikan apalagi tertransformasikan ke pengurus berikutnya, makanya wajar kalo ternyata kesalahan itu terulang kembali.
Pasca amanah sebagai ketua, aku dipercaya lagi untuk menjadi DPO (Dewan Pertimbangan Organisasi), yaitu suatu badan yang bertugas memberikan pertimbangan, saran dan masukan serta melakukan pengawasan terhadap kepengurusan UKI. Di forum ini aku dan para orang-orang tua di UKI hanya berperan sebagai pengamat dan menjadi komentator atas semua proses yang terjadi dalam kepengurusan UKI. Kami memberikan pertimbangan, saran dan masukan tersebut tentunya berdasarkan pengalaman kami sebagai pengurus UKI selama dua periode berturut turut dan di forum ini pula aku dan personil DPO yang lain bisa bernostalgia dengan masa lalu kami selama di UKI.
Kini, aku bukan siapa-siapa lagi di UKI, karena aku telah lulus dan meraih gelar S.Pt (Sarjana Peternakan). Meskipun demikian, aku takkan pernah melupakan UKI, karena aku telah dibesarkan di UKI, karena UKI telah memberikan makna tersendiri dalam hidupku dan telah menghiasi perjalanan hidupku, karena aku banyak mengalami banyak perubahan melalui UKI, karena aku banyak mendapatkan saudara di UKI. Aku baru menyadari bahwa slogan yang selama ini digembor-gemborkan tentang "UKI bukanlah segalanya, tapi segalanya bisa jadi bermula dari UKI" ternyata benar-benar baru kurasakan saat ini. Betapa banyak kenangan-kenangan indah yang tidak mungkin bisa kuungkapkan semuanya di sini, namun cukup bagian yang penting-pentingnya saja yang kutampilkan. Semoga tulisanku ini bisa menjadi bahan refleksi terhadap perjalanan UKI semenjak aku mulai masuk di kampus ini hingga sekarang.
Aku yakin banyak pelajaran yang bisa diambil dan bisa dijadikan sebagai bahan introspeksi dari catatan ini. Harapanku semoga dari pengalaman tersebut, di kemudian hari adik-adikku bisa menyusun langkah yang lebih baik untuk perkembangan UKI di masa mendatang. Meskipun kuakui bahwa generasiku belum bisa mencapai puncak dari sebuah perjuangan. Tapi aku tsiqoh (percaya) pada generasi penerusku, Insyaallah mereka mampu melanjutkan perjuangan yang masih teramat panjang tersebut. Syekh Mustafa Masyhur telah menyatakan : Daurua qod madha wasa`ti daurukum (era kami telah lewat dan akan datang era kalian). Oleh karena itu saudaraku, memperhatikan besarnya tanggung jawab antum terhadap dakwah saat ini, maka perlu kiranya disikapi dengan sebuah tekad : berjalanlah dan jangan berhenti!
Kan melangkah kaki dengan pasti
Menerobos semua onak duri
Generasi baru yang tlah dinanti
Tak takut dicaci tak gentar mati
……
Takkan surut walau selangkah
Takkan henti walau sejenak
Cita kami hidup mulia atau syahid menggapai Syurga
(Shoutul Harokah)
penulis adalah ketua UKI periode 2002-2003/ DPO 2003-2004
Pola Kaderisasi
Alur Kaderisasi
Penjelasan Alur Kaderisasi
A. Penjaringan
1. Penjaringan dilakukan dengan maksud mengenalkan SALAM kepada mahasiswa muslim Fakultas Peternakan dan sebagai rekruitmen keanggotaan SALAM Fapet..
2. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan berbagai metode dan bentuk.
3. Pada fase penjaringan ini, mahasiswa muslim yang mendaftarkan diri untuk menjadi anggota SALAM Fapet dapat dikatakan sebagai Calon Kader
4. Pada fase penjaringan ini hendaknya disosialisasikan mengenai keanggotaan di SALAM Fapet
5. Waktu penjaringan sampai dengan LK I lamanya + 1 bulan.
Target Penjaringan :
1. Mengenalkan SALAM Fapet kepada sasaran rekruitmen (visi, misi dan aktivitas).
2. Menarik mahasiswa muslim Fakultas Peternakan untuk menjadi Kader SALAM Fapet.
B. Latihan Kader I
1. Latihan Kader I adalah pintu gerbang untuk menjadi Kader SALAM Fapet.
2. Operasional kegiatan Latihan Kader I, penanggung jawab/SC nya adalah Bidang Pembinaan dan Kaderisasi dan pelaksananya adalah Kader SALAM Fapet atau ditangani langsung oleh Bidang Pembinaan dan Kaderisasi.
Target Latihan Kader I :
1. Tertanamnya nilai-nilai dasar keislaman
2. Mengenal permasalahan umat kontemporer
3. Kader paham terhadap urgensi pembinaan
4. Dikukuhkannya status keanggotaan SALAM Fapet dan penjelasan hak dan kewajiban anggota.
5. Kader paham visi dan misi SALAM Fapet.
6. Tumbuhnya sikap kritis.
7. Kader paham urgensi dakwah
C. Studi Islam Intensif
1. SII adalah suatu kegiatan studi islam yang dilaksanakan pasca LK I dan LK II yang dilakukan secara rutin untuk memenuhi karakteristik kader.
2. Kegiatan SII diwajibkan untuk kader yang pernah mengikuti LK I dan LK II, serta bisa di ikuti oleh mahasiswa Muslim Fapet atas rekomendasi bidang pembinaan dan kaderisasi.
3. Masa pembinaan pra LK II + 6 bulan.
4. Masa pembinaan pasca LK II dilakukan secara berkelanjutan.
5. Metode dan bentuk kegiatan diserahkan kepada tentor yang mendapat amanah.
6. Penataan, pemantauan, pemeliharaan, dan penjagaan serta peningkatan kemampuan kader selama menjalani kegiatan Study Islam Intensif dilakukan oleh forum tentor yang bertanggung jawab kepada bidang pembinaan dan kaderisasi.
Target SII Pra Latihan Kader II
1. Terbinanya dasar-dasar keimanan/aqidah
2. Terbentuknya dasar-dasar akhlaq Islam
3. Tertatanya aktivitas ibadah
4. Paham mengenai kesinambungan pembinaan
5. Pemetaan potensi dan bakat kader
6. Pahan mengenai urgensi dakwah
Target SII Pasca Latihan Kader II
1. Memahami karakter Dakwah Islam dan mampu mengaplikasikannya.
2. Dapat mengaplikasikan Ukhuwah Islamiyah
3. Memahami permasalahan umat dan berusaha mengatasinya
4. Optimalisasi potensi kader.
5. Mempunyai wawasan yang luas tentang dunia islam.
D. Latihan Kader II
1. Latihan Kader II mensyaratkan karakteristik tertentu bagi kader yang akan mengikutinya. Karakteristik tersebut diukur dari evaluasi dalam kegiatan SII dan intensitasnya dalam mengikuti kegiatan di SALAM.
2. Latihan Kader II merupakan syarat untuk menjadi pengurus SALAM Fapet, namun pada kondisi tertentu dapat diadakan penyetaraan.
3. Operasionalisasi LK II menjadi tanggung jawab Bidang Pembinaan dan Kaderisasi.
Target Latihan Kader II
1. Paham terhadap tanggung jawab dan kewajiban dakwah
2. Paham tentang perencanaan dakwah kampus
E. Kegiatan Suplemen
1. Kegiatan suplemen merupakan muatan tambahan yang diberikan dengan memperhatikan perkembangan maupun target pengembangan potensi kader.
2. Kegiatan ini merupakan upya peningkatan wawasan dan skill kader dalam rangka pembentukan Kader SALAM Fapet yang ideal.
3. Bentuk kegiatan suplemen diserahkan sepenuhnya kepada bidang pembinaan dan kaderisasi.
Target Kegiatan Suplemen :
1. Terpenuhinya Target Pembentukan Karakteristik kader serta kebutuhan organisasi akan kader yang handal.
2. Tergalinya potensi kader untuk dioptimalisasikan melalui SALAM Fapet.
F. Optimalisasi Peran
1. Mengarahkan kader agar aktif dalam dakwah sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimiliki.
2. Melanjutkan kepengurusan SALAM Fapet untuk mengembangkan dakwah di Fakultas Peternakan.
3. Memproyeksikan peran dakwah kader yang lebih luas.
Target Optimalisasi Peran :
1. Terbentuknya pengurus SALAM Fapet.
2. Kader dapat berperan dalam medan dakwah yang lebih luas.
Karakteristik Kader SALAM Fapet Unsoed
A. Karakteristik kader pra LK II
1. Aqidah
a. Tidak minta tolong kepada selain Allah
b. Mengikhlaskan amal karena Allah SWT
c. Mengimani Rukun Iman
d. Menjauhkan diri dari takhayul, bid`ah dan khurafat
e. Menjauhkan diri dari dosa-dosa besar
f. Menerima dan tunduk secara penuh kepada Allah SWT dan tidak bertahkim kepada selain yang diturunkankan-Nya
2. Akhlaq dan Ibadah
a. Melaksanakan rukun Islam
b. Terbiasa sholat berjama`ah di masjid
c. Terbiasa membaca Al-Qur`an setiap hari
d. Terbiasa menyebarkan salam kepada sesama muslim
e. Terbiasa melakukan amalan-amalan sunnah
f. Mensyukuri nikmat Allah
g. Tidak takabbur, ghibah dan namimah
h. Tidak menghina dan meremehkan orang lain
i. Berusaha memenuhi janji
j. Menjaga pandangan
k. Birrul walidain
3. Wawasan
Meyakini Islam sebagai aturan seluruh kehidupan manusia
4. Dakwah
Memahami kewajiban untuk berdakwah..
5. Skill
a. Mampu mengaplikasikan dasar-dasar organisasi
b. Memahami konsep diri dan punya motivasi untuk mengembangkan potensi
B. Karakteristik kader pasca LK II
1. Aqidah
a. Paham tentang konsep tauhid
b. Menjadikan Allah sebagai tujuan hidup
c. Menjadikan Rasulallah sebagai suri tauladan
d. Tidak mengkafirkan sesama muslim
e. Menjauhkan diri dari dosa-dosa kecil
f. Meyakini bahwa masa depan ada di tangan Islam
g. Tidak mengedepankan makhluq atas kholiq
2. Akhlaq dan Ibadah
a. Khusyu` dalam sholat
b. Mengkaji dan menghafal Al-Qur`an
c. Merutinkan puasa sunnah
d. Merutinkan qiyamullail
e. Merutinkan infaq
f. Memperbanyak dzikirullah
g. Sedikit bercanda
h. Tawadhu
i. Tidak hasud
j. Menepati janji
k. Memerintahkan yang ma`ruf dan mencegah yang munkar
3. Wawasan
a. Mengetahui informasi dan problematika umat kontemporer dan mampu memberikan solusi
b. Memahami Ghozwul Fikr
4. Dakwah
a. Paham karakter dakwah Rasulallah dan berusaha meneladaninya
b. Mampu merancang perencanaan strategis dakwah kampus
5. Skill
a. Mampu mengaplikasikan kepemimpinan organisasi
b. Mampu mengaplikasikan manajerial organisasi
c. Mampu mengembangkan potensi diri.
Penjelasan Alur Kaderisasi
A. Penjaringan
1. Penjaringan dilakukan dengan maksud mengenalkan SALAM kepada mahasiswa muslim Fakultas Peternakan dan sebagai rekruitmen keanggotaan SALAM Fapet..
2. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan berbagai metode dan bentuk.
3. Pada fase penjaringan ini, mahasiswa muslim yang mendaftarkan diri untuk menjadi anggota SALAM Fapet dapat dikatakan sebagai Calon Kader
4. Pada fase penjaringan ini hendaknya disosialisasikan mengenai keanggotaan di SALAM Fapet
5. Waktu penjaringan sampai dengan LK I lamanya + 1 bulan.
Target Penjaringan :
1. Mengenalkan SALAM Fapet kepada sasaran rekruitmen (visi, misi dan aktivitas).
2. Menarik mahasiswa muslim Fakultas Peternakan untuk menjadi Kader SALAM Fapet.
B. Latihan Kader I
1. Latihan Kader I adalah pintu gerbang untuk menjadi Kader SALAM Fapet.
2. Operasional kegiatan Latihan Kader I, penanggung jawab/SC nya adalah Bidang Pembinaan dan Kaderisasi dan pelaksananya adalah Kader SALAM Fapet atau ditangani langsung oleh Bidang Pembinaan dan Kaderisasi.
Target Latihan Kader I :
1. Tertanamnya nilai-nilai dasar keislaman
2. Mengenal permasalahan umat kontemporer
3. Kader paham terhadap urgensi pembinaan
4. Dikukuhkannya status keanggotaan SALAM Fapet dan penjelasan hak dan kewajiban anggota.
5. Kader paham visi dan misi SALAM Fapet.
6. Tumbuhnya sikap kritis.
7. Kader paham urgensi dakwah
C. Studi Islam Intensif
1. SII adalah suatu kegiatan studi islam yang dilaksanakan pasca LK I dan LK II yang dilakukan secara rutin untuk memenuhi karakteristik kader.
2. Kegiatan SII diwajibkan untuk kader yang pernah mengikuti LK I dan LK II, serta bisa di ikuti oleh mahasiswa Muslim Fapet atas rekomendasi bidang pembinaan dan kaderisasi.
3. Masa pembinaan pra LK II + 6 bulan.
4. Masa pembinaan pasca LK II dilakukan secara berkelanjutan.
5. Metode dan bentuk kegiatan diserahkan kepada tentor yang mendapat amanah.
6. Penataan, pemantauan, pemeliharaan, dan penjagaan serta peningkatan kemampuan kader selama menjalani kegiatan Study Islam Intensif dilakukan oleh forum tentor yang bertanggung jawab kepada bidang pembinaan dan kaderisasi.
Target SII Pra Latihan Kader II
1. Terbinanya dasar-dasar keimanan/aqidah
2. Terbentuknya dasar-dasar akhlaq Islam
3. Tertatanya aktivitas ibadah
4. Paham mengenai kesinambungan pembinaan
5. Pemetaan potensi dan bakat kader
6. Pahan mengenai urgensi dakwah
Target SII Pasca Latihan Kader II
1. Memahami karakter Dakwah Islam dan mampu mengaplikasikannya.
2. Dapat mengaplikasikan Ukhuwah Islamiyah
3. Memahami permasalahan umat dan berusaha mengatasinya
4. Optimalisasi potensi kader.
5. Mempunyai wawasan yang luas tentang dunia islam.
D. Latihan Kader II
1. Latihan Kader II mensyaratkan karakteristik tertentu bagi kader yang akan mengikutinya. Karakteristik tersebut diukur dari evaluasi dalam kegiatan SII dan intensitasnya dalam mengikuti kegiatan di SALAM.
2. Latihan Kader II merupakan syarat untuk menjadi pengurus SALAM Fapet, namun pada kondisi tertentu dapat diadakan penyetaraan.
3. Operasionalisasi LK II menjadi tanggung jawab Bidang Pembinaan dan Kaderisasi.
Target Latihan Kader II
1. Paham terhadap tanggung jawab dan kewajiban dakwah
2. Paham tentang perencanaan dakwah kampus
E. Kegiatan Suplemen
1. Kegiatan suplemen merupakan muatan tambahan yang diberikan dengan memperhatikan perkembangan maupun target pengembangan potensi kader.
2. Kegiatan ini merupakan upya peningkatan wawasan dan skill kader dalam rangka pembentukan Kader SALAM Fapet yang ideal.
3. Bentuk kegiatan suplemen diserahkan sepenuhnya kepada bidang pembinaan dan kaderisasi.
Target Kegiatan Suplemen :
1. Terpenuhinya Target Pembentukan Karakteristik kader serta kebutuhan organisasi akan kader yang handal.
2. Tergalinya potensi kader untuk dioptimalisasikan melalui SALAM Fapet.
F. Optimalisasi Peran
1. Mengarahkan kader agar aktif dalam dakwah sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimiliki.
2. Melanjutkan kepengurusan SALAM Fapet untuk mengembangkan dakwah di Fakultas Peternakan.
3. Memproyeksikan peran dakwah kader yang lebih luas.
Target Optimalisasi Peran :
1. Terbentuknya pengurus SALAM Fapet.
2. Kader dapat berperan dalam medan dakwah yang lebih luas.
Karakteristik Kader SALAM Fapet Unsoed
A. Karakteristik kader pra LK II
1. Aqidah
a. Tidak minta tolong kepada selain Allah
b. Mengikhlaskan amal karena Allah SWT
c. Mengimani Rukun Iman
d. Menjauhkan diri dari takhayul, bid`ah dan khurafat
e. Menjauhkan diri dari dosa-dosa besar
f. Menerima dan tunduk secara penuh kepada Allah SWT dan tidak bertahkim kepada selain yang diturunkankan-Nya
2. Akhlaq dan Ibadah
a. Melaksanakan rukun Islam
b. Terbiasa sholat berjama`ah di masjid
c. Terbiasa membaca Al-Qur`an setiap hari
d. Terbiasa menyebarkan salam kepada sesama muslim
e. Terbiasa melakukan amalan-amalan sunnah
f. Mensyukuri nikmat Allah
g. Tidak takabbur, ghibah dan namimah
h. Tidak menghina dan meremehkan orang lain
i. Berusaha memenuhi janji
j. Menjaga pandangan
k. Birrul walidain
3. Wawasan
Meyakini Islam sebagai aturan seluruh kehidupan manusia
4. Dakwah
Memahami kewajiban untuk berdakwah..
5. Skill
a. Mampu mengaplikasikan dasar-dasar organisasi
b. Memahami konsep diri dan punya motivasi untuk mengembangkan potensi
B. Karakteristik kader pasca LK II
1. Aqidah
a. Paham tentang konsep tauhid
b. Menjadikan Allah sebagai tujuan hidup
c. Menjadikan Rasulallah sebagai suri tauladan
d. Tidak mengkafirkan sesama muslim
e. Menjauhkan diri dari dosa-dosa kecil
f. Meyakini bahwa masa depan ada di tangan Islam
g. Tidak mengedepankan makhluq atas kholiq
2. Akhlaq dan Ibadah
a. Khusyu` dalam sholat
b. Mengkaji dan menghafal Al-Qur`an
c. Merutinkan puasa sunnah
d. Merutinkan qiyamullail
e. Merutinkan infaq
f. Memperbanyak dzikirullah
g. Sedikit bercanda
h. Tawadhu
i. Tidak hasud
j. Menepati janji
k. Memerintahkan yang ma`ruf dan mencegah yang munkar
3. Wawasan
a. Mengetahui informasi dan problematika umat kontemporer dan mampu memberikan solusi
b. Memahami Ghozwul Fikr
4. Dakwah
a. Paham karakter dakwah Rasulallah dan berusaha meneladaninya
b. Mampu merancang perencanaan strategis dakwah kampus
5. Skill
a. Mampu mengaplikasikan kepemimpinan organisasi
b. Mampu mengaplikasikan manajerial organisasi
c. Mampu mengembangkan potensi diri.
Mekanisme Penyelenggaraan Organisasi
MEKANISME PENYELENGGARAAN ORGANISASI
PERSAUDARAAN ISLAM (SALAM)
FAKULTAS PETERNAKAN
2005/2006
BAB I. PENDAHULUAN
Pasal 1
Pengertian
Mekanisme penyelenggaraan organisasi merupakan pedoman penyelenggaraan tata cara keorganisasian yang bertujuan untuk mengatur dan menertibkan penyelenggaraan organisasi Persaudaraan Islam (SALAM) Fapet Unsoed selama masa kepengurusan.
Pasal 2
Badan Perumus
1. Badan perumus dibentuk melalui rapat pimpinan paling lambat 2 bulan sebelum musyawarah anggota dilaksanakan
2. Tugas badan pekerja adalah membuat dan mempersiapkan rancangan tata tertib musyawarah anggota, AD/ART, GBHK dan MPO.
3. Badan perumus beranggotakan 25 orang yang terdiri dari:
a. Pengurus harian
b. Ketua bidang
c. Ketua biro
d. Perwakilan masing-masing angkatan disesuaikan dengan jumlah anggota tiap angkatan
BAB II. TIM FORMATUR
Pasal 3
Pengertian
Tim formatur adalah tim yang bertanggung jawab atas kelancaran pembentukan kepengurusan SALAM Fapet
Pasal 4
Tugas Tim Formatur
1. Memilih calon ketua umum SALAM Fapet pada saat musyawarah anggota.
2. Membantu ketua SALAM dalam menyusun kepengurusan SALAM Fapet
BAB III. KRITERIA PENGURUS
Pasal 5
Ketua Umum
1. Memiliki komitmen untuk menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman hidup
2. Memiliki kemampuan manajerial, leadership dan berwawasan luas
3. Ketua umum adalah anggota SALAM Fapet yang pernah menjabat sebagai pengurus minimal satu priode kepengurusan
4. Memiliki motivasi dan dedikasi tinggi serta senantiasa istiqomah terhadap dakwah Islam
5. Tidak merangkap sebagai ketua organisasi mahasiswa dan sosial lainnya.
Pasal 6
Pengurus
1. Memiliki komitmen untuk menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman hidup
2. Memiliki dedikasi tinggi serta senantiasa istiqomah terhadap dakwah Islam
3. Semua pengurus adalah anggota SALAM Fapet yang telah mengikuti LK II atau yang telah melalui proses penyetaraan.
4. Mau dan mampu bekerja sama dengan pengurus lain.
BAB IV. MEKANISME PENGUNDURAN DIRI
Pasal 7
Alasan Pengunduran Diri
1. Meninggalkan wialayah di luar jangkauan organisasi dalam jangka waktu minimal 3 bulan kepengurusan dengan alasan syar’i
2. Sakit yang tidak memungkinkan untuk aktif dalam kepengurusan SALAM Fapet
3. Telah menyelesaikan studi
4. Cuti akademik
Pasal 8
Tata Cara Pengunduran Diri
1. Ketua umum mengundurkan diri hanya melalui musyawarah anggota luar biasa
2. Pengurus :
a. Mengajukan surat pengunduran diri disertai lampiran yang menguatkan dan ditujukan kepada ketua umum
b. Ketua umum dengan pertimbangan DPO mengeluarkan surat keputusan dalam waktu yang secepatnya
3. DPO :
a. Anggota DPO yang mengundurkan diri harus mendapatkan persetujuan minimal 2/3 jumlah anggota DPO
b. DPO mengeluarkan surat keputusan pengunduran diri anggota DPO yang bersangkutan dan memberitahukannya kepada pengurus.
BAB V. MEKANISME PEMBERHENTIAN
Pasal 9
Jenis Pemberhentian
Pemberhentian dengam hormat :
a. Meninggalkan wilayah di luar jangkauan organisasi dalam jangka waktu minimal 3 bulan kepengurusan dengan alasan syar’i
b. Sakit yang tidak memungkinkan untuk aktif dalam kepengurusan SALAM Fapet
c. Telah menyelesaikan studi
d. Cuti akademik
2. Pemberhentian dengan tidak hormat:
a. Murtad
b. Mencemarkan nama baik SALAM Fapet
c. Tidak aktif dalam kepengurusan selama 3 bulan berturut-turut tanpa alasan yang syar’i
Pasal 10
Sanksi
1. Ketua umum berhak memberikan teguran lisan kepada pengurus yang tidak aktif selama 2 bulan berturut-turut tanpa lasan syar’i
2. Apabila teguran lisan tidak diindahkan maka ketua umum berhak memberikan teguran tertulis
3. Apabila teguran tertulis tidak diindahkan maka pihak yang bersangkutan diusulkan untuk diberhentikan dari kepengurusan.
Pasal 11
Tata Cara Pemberhentian
1. Usulan pemberhentian pengurus diajukan secara tertulis kepada ketua umum
2. Usulan pemberhentian pengurus dibahas dalam rapat pimpinan dan DPO
3. Pengurus yang bersangkutan dinyatakan keluar dari kepengurusan dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah pengurus dan ditetapkan dengan surat keputusan ketua SALAM Fapet.
4. Pemberhentian anggota dapat dilakukan oleh ketua umum atas pertimbangan bidang pembinaan dan kaderisasi
BAB VI. MEKANISME RESHUFLE
Pasal 12
Pengertian
1. Mekanisme reshufle adalah tata aturan yang digunakan untuk mengangkat anggota DPO baru atau staf pengurus baru dan atau mengganti amanah.
2. Mekanisme reshufle dilakukan agar kepengurusan tetap dinamis
Pasal 13
Tata Cara Reshufle
1. Usulan pengangkatan dan atau pemindahan amanah pengurus diajukan oleh ketua atau pengurus lainnya atau DPO.
2. Usulan perlunya Reshufle dibahas dalam rapat pimpinan dengan melibatkan DPO
3. Penetapan Reshufle disetujui oleh rapat pimpinan serta pengurus yang bersangkutan.
BAB VII. MEKANISME CUTI
Pasal 14
Pengertian
Mekanisme cuti adalah tata urutan yang digunakan dalam memberi izin kepada pengurus untuk bebas dari tugas kepengurusan selama rentang waktu tertentu.
Pasal 15
Alasan
1. Kuliah Kerja Nyata, Kerja Praktek, Praktek Kerja Lapangan, Magang, Penelitian tugas akhir
2. Sakit yang membutuhkan istirahat cukup lama
3. Hal lain dengan alasan syar’i yang disetujui oleh rapat pimpinan.
Pasal 16
Tata Cara
1. Mengajukan surat cuti dengan alasan yang jelas kepada ketua umum.
2. Surat cuti diajukan minimal 1 minggu sebelum masa cuti berlaku kecuali dalam hal-hal yamg mendesak.
BAB VIII. MEKANISME ALIH KEPENGURUSAN
Pasal 17
Selama alih kepengurusan kekuasaan tertinggi ada di tangan presidium
BAB IX. MEKANISME KOORDINASI
Pasal 18
Koordinasi merupakan upaya untuk memudahkan komunikasi serta mensolidkan antar pengurus dan atau DPO yang dilakukan secara berkala dalam jangka waktu yang telah ditentukan.
Pasal 19
Jenis-Jenis Koordinasi
1. Rapat pimpinan adalah musyawarah yang dilakukan oleh unsur pimpinan untuk membahas kebijakan umum (rencana koordinasi, pengawasan dan evaluasi) dan kebijakan khusus (hal-hal yang berkaitan dengan SALAM Fapet).
2. Rapat pengurus adalah musyawarah yang dilakukan oleh pengurus untuk membahas program kerja yang telah dan akan dilaksanakan yang pelaksanaannya sekurang-kurangnya 2 bulan sekali
3. Rapat bidang/biro merupakan forum konsultasi, koordinasi dan konsolidasi serta silaturahmi antar pengurus dalam satu bidang/biro yang dilaksanakan sesuai dengan kebijakan masing-masing bidang.
4. Rapat antar bidang merupakan forum koordinasi dan konsolidasi antar bidang untuk membahas program kerja yang berkaitan dan dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan.
5. Rapat pimpinan dan DPO merupakan forum komunikasi, evaluasi, dan konsultasi antara pimpinan dengan DPO yang dilaksanakan sekurang-kurangnya 1 kali dalam 2 bulan
6. Rapat DPO merupakan forum koordinasi dan konsolidasi serta yang membahas segala sesuatu yang berkaitan dengan kelancaran organisasi
Pasal 20
Pelimpahan Wewenang
1. Pelimpahan wewenang merupakan upaya yang bertujuan untuk menggantikan pengurus yang berhalangan kepada pengurus lain untuk melaksanakan tugasnya dalam jangka waktu yang telah ditentukan
2. Tata urutan pelimpahan wewenang apabila ketua umum berhalangan menjalankan fungsinya:
a. Sekertaris umum
b. Kepala bidang humas
c. Kepala bidang syi’ar
d. Kepala bidang pembinaan dan kaderisasi
e. Pengurus lain yang ditunjuk oleh kepala bidang pembinaan dan kaderisasi
3. Pelimpahan wewenang selain ketua umum dilakukan sesuai dengan jenjang hierarki kepengurusan dan diketahui oleh ketua umum.
BAB X. MEKANISME EVALUASI, MONITORING, DAN PELAPORAN
Pasal 21
Pengertian Dan Fungsi
1. Evaluasi, monitoring dan pelaporan merupakan sarana untuk mengontrol program kerja yang sedang, akan dan telah dilaksanakan
2. Evaluasi, monitoring dan pelaporan dilaksnakan secara berkesinambungan, terpadu, terarah, efisien dan efektif.
Pasal 22
Tata Cara
1. Data-data hasil kegiatan beserta data hasil evaluasi, monitoring dan pelaporan kegiatan dibuat selambat-lambatnya 2 minggu setelah kegiatan berakhir
2. Laporan-laporan digunakan untuk menyusun laporan pertanggungjawaban pengurus
3. Bentuk dan sistematika evaluasi, monitoring dan pelaporan diatur secara teknis dengan ketentuan tersendiri oleh pengurus SALAM Fapet.
BAB XI. PENUTUP
Pasal 23
1. Hal-hal yang belum tercantum dalam ketentuan ini akan ditetapkan lebih lanjut.
2. Apabila ternyata dalam ketentuan ini terdapat kekeliruan maka akan diperbaiki sebagaimana mestinya.
PERSAUDARAAN ISLAM (SALAM)
FAKULTAS PETERNAKAN
2005/2006
BAB I. PENDAHULUAN
Pasal 1
Pengertian
Mekanisme penyelenggaraan organisasi merupakan pedoman penyelenggaraan tata cara keorganisasian yang bertujuan untuk mengatur dan menertibkan penyelenggaraan organisasi Persaudaraan Islam (SALAM) Fapet Unsoed selama masa kepengurusan.
Pasal 2
Badan Perumus
1. Badan perumus dibentuk melalui rapat pimpinan paling lambat 2 bulan sebelum musyawarah anggota dilaksanakan
2. Tugas badan pekerja adalah membuat dan mempersiapkan rancangan tata tertib musyawarah anggota, AD/ART, GBHK dan MPO.
3. Badan perumus beranggotakan 25 orang yang terdiri dari:
a. Pengurus harian
b. Ketua bidang
c. Ketua biro
d. Perwakilan masing-masing angkatan disesuaikan dengan jumlah anggota tiap angkatan
BAB II. TIM FORMATUR
Pasal 3
Pengertian
Tim formatur adalah tim yang bertanggung jawab atas kelancaran pembentukan kepengurusan SALAM Fapet
Pasal 4
Tugas Tim Formatur
1. Memilih calon ketua umum SALAM Fapet pada saat musyawarah anggota.
2. Membantu ketua SALAM dalam menyusun kepengurusan SALAM Fapet
BAB III. KRITERIA PENGURUS
Pasal 5
Ketua Umum
1. Memiliki komitmen untuk menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman hidup
2. Memiliki kemampuan manajerial, leadership dan berwawasan luas
3. Ketua umum adalah anggota SALAM Fapet yang pernah menjabat sebagai pengurus minimal satu priode kepengurusan
4. Memiliki motivasi dan dedikasi tinggi serta senantiasa istiqomah terhadap dakwah Islam
5. Tidak merangkap sebagai ketua organisasi mahasiswa dan sosial lainnya.
Pasal 6
Pengurus
1. Memiliki komitmen untuk menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman hidup
2. Memiliki dedikasi tinggi serta senantiasa istiqomah terhadap dakwah Islam
3. Semua pengurus adalah anggota SALAM Fapet yang telah mengikuti LK II atau yang telah melalui proses penyetaraan.
4. Mau dan mampu bekerja sama dengan pengurus lain.
BAB IV. MEKANISME PENGUNDURAN DIRI
Pasal 7
Alasan Pengunduran Diri
1. Meninggalkan wialayah di luar jangkauan organisasi dalam jangka waktu minimal 3 bulan kepengurusan dengan alasan syar’i
2. Sakit yang tidak memungkinkan untuk aktif dalam kepengurusan SALAM Fapet
3. Telah menyelesaikan studi
4. Cuti akademik
Pasal 8
Tata Cara Pengunduran Diri
1. Ketua umum mengundurkan diri hanya melalui musyawarah anggota luar biasa
2. Pengurus :
a. Mengajukan surat pengunduran diri disertai lampiran yang menguatkan dan ditujukan kepada ketua umum
b. Ketua umum dengan pertimbangan DPO mengeluarkan surat keputusan dalam waktu yang secepatnya
3. DPO :
a. Anggota DPO yang mengundurkan diri harus mendapatkan persetujuan minimal 2/3 jumlah anggota DPO
b. DPO mengeluarkan surat keputusan pengunduran diri anggota DPO yang bersangkutan dan memberitahukannya kepada pengurus.
BAB V. MEKANISME PEMBERHENTIAN
Pasal 9
Jenis Pemberhentian
Pemberhentian dengam hormat :
a. Meninggalkan wilayah di luar jangkauan organisasi dalam jangka waktu minimal 3 bulan kepengurusan dengan alasan syar’i
b. Sakit yang tidak memungkinkan untuk aktif dalam kepengurusan SALAM Fapet
c. Telah menyelesaikan studi
d. Cuti akademik
2. Pemberhentian dengan tidak hormat:
a. Murtad
b. Mencemarkan nama baik SALAM Fapet
c. Tidak aktif dalam kepengurusan selama 3 bulan berturut-turut tanpa alasan yang syar’i
Pasal 10
Sanksi
1. Ketua umum berhak memberikan teguran lisan kepada pengurus yang tidak aktif selama 2 bulan berturut-turut tanpa lasan syar’i
2. Apabila teguran lisan tidak diindahkan maka ketua umum berhak memberikan teguran tertulis
3. Apabila teguran tertulis tidak diindahkan maka pihak yang bersangkutan diusulkan untuk diberhentikan dari kepengurusan.
Pasal 11
Tata Cara Pemberhentian
1. Usulan pemberhentian pengurus diajukan secara tertulis kepada ketua umum
2. Usulan pemberhentian pengurus dibahas dalam rapat pimpinan dan DPO
3. Pengurus yang bersangkutan dinyatakan keluar dari kepengurusan dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah pengurus dan ditetapkan dengan surat keputusan ketua SALAM Fapet.
4. Pemberhentian anggota dapat dilakukan oleh ketua umum atas pertimbangan bidang pembinaan dan kaderisasi
BAB VI. MEKANISME RESHUFLE
Pasal 12
Pengertian
1. Mekanisme reshufle adalah tata aturan yang digunakan untuk mengangkat anggota DPO baru atau staf pengurus baru dan atau mengganti amanah.
2. Mekanisme reshufle dilakukan agar kepengurusan tetap dinamis
Pasal 13
Tata Cara Reshufle
1. Usulan pengangkatan dan atau pemindahan amanah pengurus diajukan oleh ketua atau pengurus lainnya atau DPO.
2. Usulan perlunya Reshufle dibahas dalam rapat pimpinan dengan melibatkan DPO
3. Penetapan Reshufle disetujui oleh rapat pimpinan serta pengurus yang bersangkutan.
BAB VII. MEKANISME CUTI
Pasal 14
Pengertian
Mekanisme cuti adalah tata urutan yang digunakan dalam memberi izin kepada pengurus untuk bebas dari tugas kepengurusan selama rentang waktu tertentu.
Pasal 15
Alasan
1. Kuliah Kerja Nyata, Kerja Praktek, Praktek Kerja Lapangan, Magang, Penelitian tugas akhir
2. Sakit yang membutuhkan istirahat cukup lama
3. Hal lain dengan alasan syar’i yang disetujui oleh rapat pimpinan.
Pasal 16
Tata Cara
1. Mengajukan surat cuti dengan alasan yang jelas kepada ketua umum.
2. Surat cuti diajukan minimal 1 minggu sebelum masa cuti berlaku kecuali dalam hal-hal yamg mendesak.
BAB VIII. MEKANISME ALIH KEPENGURUSAN
Pasal 17
Selama alih kepengurusan kekuasaan tertinggi ada di tangan presidium
BAB IX. MEKANISME KOORDINASI
Pasal 18
Koordinasi merupakan upaya untuk memudahkan komunikasi serta mensolidkan antar pengurus dan atau DPO yang dilakukan secara berkala dalam jangka waktu yang telah ditentukan.
Pasal 19
Jenis-Jenis Koordinasi
1. Rapat pimpinan adalah musyawarah yang dilakukan oleh unsur pimpinan untuk membahas kebijakan umum (rencana koordinasi, pengawasan dan evaluasi) dan kebijakan khusus (hal-hal yang berkaitan dengan SALAM Fapet).
2. Rapat pengurus adalah musyawarah yang dilakukan oleh pengurus untuk membahas program kerja yang telah dan akan dilaksanakan yang pelaksanaannya sekurang-kurangnya 2 bulan sekali
3. Rapat bidang/biro merupakan forum konsultasi, koordinasi dan konsolidasi serta silaturahmi antar pengurus dalam satu bidang/biro yang dilaksanakan sesuai dengan kebijakan masing-masing bidang.
4. Rapat antar bidang merupakan forum koordinasi dan konsolidasi antar bidang untuk membahas program kerja yang berkaitan dan dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan.
5. Rapat pimpinan dan DPO merupakan forum komunikasi, evaluasi, dan konsultasi antara pimpinan dengan DPO yang dilaksanakan sekurang-kurangnya 1 kali dalam 2 bulan
6. Rapat DPO merupakan forum koordinasi dan konsolidasi serta yang membahas segala sesuatu yang berkaitan dengan kelancaran organisasi
Pasal 20
Pelimpahan Wewenang
1. Pelimpahan wewenang merupakan upaya yang bertujuan untuk menggantikan pengurus yang berhalangan kepada pengurus lain untuk melaksanakan tugasnya dalam jangka waktu yang telah ditentukan
2. Tata urutan pelimpahan wewenang apabila ketua umum berhalangan menjalankan fungsinya:
a. Sekertaris umum
b. Kepala bidang humas
c. Kepala bidang syi’ar
d. Kepala bidang pembinaan dan kaderisasi
e. Pengurus lain yang ditunjuk oleh kepala bidang pembinaan dan kaderisasi
3. Pelimpahan wewenang selain ketua umum dilakukan sesuai dengan jenjang hierarki kepengurusan dan diketahui oleh ketua umum.
BAB X. MEKANISME EVALUASI, MONITORING, DAN PELAPORAN
Pasal 21
Pengertian Dan Fungsi
1. Evaluasi, monitoring dan pelaporan merupakan sarana untuk mengontrol program kerja yang sedang, akan dan telah dilaksanakan
2. Evaluasi, monitoring dan pelaporan dilaksnakan secara berkesinambungan, terpadu, terarah, efisien dan efektif.
Pasal 22
Tata Cara
1. Data-data hasil kegiatan beserta data hasil evaluasi, monitoring dan pelaporan kegiatan dibuat selambat-lambatnya 2 minggu setelah kegiatan berakhir
2. Laporan-laporan digunakan untuk menyusun laporan pertanggungjawaban pengurus
3. Bentuk dan sistematika evaluasi, monitoring dan pelaporan diatur secara teknis dengan ketentuan tersendiri oleh pengurus SALAM Fapet.
BAB XI. PENUTUP
Pasal 23
1. Hal-hal yang belum tercantum dalam ketentuan ini akan ditetapkan lebih lanjut.
2. Apabila ternyata dalam ketentuan ini terdapat kekeliruan maka akan diperbaiki sebagaimana mestinya.
GBHK
GARIS-GARIS BESAR HALUAN KERJA
PERSAUDARAAN ISLAM
FAKULTAS PETERNAKAN UNSOED
2005
I. MUQODIMAH
Persaudaraan Islam (SALAM) Fapet Unsoed sebagai salah satu organisasi yang mengemban misi dakwah untuk melaksanakan fungsi amar ma’ruf nahyi munkar, untuk itu diperlukan perencanaan dalam setiap langkah maupun kegiatannya sehingga lebih terarah pada pencapaian tujuan SALAM Fapet. Perencanaan langkah dan kegiatan dituangkan dalam Garis-garis Besar Haluan Kerja ( GBHK ) yang ditetapkan bersama dalam Musyawarah Anggota SALAM Fapet Unsoed yang kemudian dijabarkan dalam program kerja kepengurusan.
II. DASAR SYAR’I
a. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh pada yang ma’ruf dan mencegah pada yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung ( QS. Ali Imron : 104 )
b. Dan tolong menolonglah kamu pada kebajikan dan taqwa dn kamu jangan tolong menolong dalam perbuatan keji dan munkar, dan bertaqwalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Berat siksaNya ( QS. Al Maidah : 2 )
c. Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang berjuang dijalanNya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti bangunan yang kokoh
( QS Ash Shof : 40 )
d. Hai orang-orang yang beriman, bersiap-siaplah kamu ke medan juang berkelompok-kelompok atau majulah bersama-sama. ( QS. An Nisa : 71 )
e. Kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir. ( Ali Bin Abi Tholib )
III. DASAR OPERASIONAL
AD/ART Persaudaraan Islam (SALAM) Fapet Unsoed
IV. FUNGSI DAN TUJUAN
Memberikan pedoman, arah dan kerangka awal dalam perencanaan kerja dakwah kampus yang selanjutnya dijadikan sebagai alat evaluasi kerja kepengurusan.
V. POLA DASAR PENGEMBANGAN
1. Pengertian Pola Dasar Pengembangan
Pola dasar pengembangan adalah arahan umum SALAM Fapet Unsoed yang disusun untuk satu periode kepengurusan yang berpedoman pada visi, misi dan tujuan SALAM Fapet Unsoed.
2. Arah dan sasaran
Pencapaian tujuan dilakukan dengan penetapan tahapan penjabaran yang teratur, terarah dan istiqomah dengan adanya :
a. Perbaikan fungsi manejemen dan profesionalisme kerja organisasi.
b. Proses kaderisasi yang berkesinambungan.
c. Melakukan upaya peningkatan kesadaran dan pemahaman nilai-nilai Islam dengan lebih intensif terhadap masyarakat kampus
d. Penyebaran wacana keislaman yang berbasis kompetensi kepada masyarakat kampus.
VI. HALUAN KERJA
A. Pengurus Harian
1. Ketua Umum
Wewenang :
a. Membuat arahan umum pelaksanaan hasil Musang dan kebijakan yang berkaitan dengan organisasi.
b. Melakukan pemberhentian dan reshufle terhadap pengurus serta pengangkatan kembali pengurus baru dengan pertimbangan DPO dan pengurus
c. Mengangkat dan mencabut status keanggotaan atas pertimbangan bidang pembinaan dan kaderisasi.
Tugas:
a. Bertanggung jawab penuh terhadap jalannya organisasi.
b. Memimpin, mengkoordinasikan dan mengawasi gerak organisasi
2. Sekretaris Umum
Wewenang :
Sekum dapat menggantikan tugas ketua umum jika ketua umum berhalangan
Tugas:
a. Bersama-sama ketua umum merumuskan kebijakan organisasi.
b. Melaksanakan fungsi administrasi dan kesekretariatan untuk kelancaran organisasi.
3. Bendahara Umum
Wewenang
Mengelola keuangan organisasi
Tugas :
a. Menyusun sistem dan manajemen pendanaan oraganisasi
b. Bertanggung jawab dan mengelola arus keluar masuknya uang terutama iuran dalam organisasi
c. Melaporkan kondisi keuangan triwulan secara tertulis kepada pengurus
B. Biro-biro
1. Biro Kerumahtanggaan
Tujuan :
Memperlancar kegiatan-kegiatan kepengurusan SALAM yang berkaitan dengan kerumahtanggaan dan perpustakaan
Tugas:
a. Mengadakan, melengkapi, mengelola dan menginventarisir sarana-sarana organisasi.
b. Mengoptimalkan pengelolaan dan pengembangan perpustakaan.
c. Bersama sekum melaksanakan fungsi administrasi dan kesekretariatan
2. Biro Usaha Dana
Tujuan :
Mendukung kelancaran organisasi dalam hal pendanaan.
Tugas :
Mengusahakan sumber dana yang halal dan tidak mengikat guna kelancaran organisasi.
C. Bidang-bidang
1. Bidang Pembinaan dan Kaderisasi
Tujuan :
Membentuk pengurus dan kader dakwah yang memiliki pemahaman, loyalitas terhadap Islam yang tinggi sesuai dengan bakat dan potensinya melalui SALAM
Tugas :
a. Merekrut, mengarahkan, membina dan mengembangkan potensi kader secara ruhiyah, aqliyah dan jasadiyah serta melaksanakan pola kaderisasi secara efektif.
b. Memfasilitasi, menyalurkan minat, bakat dan kreativitas kader sebagai wahana pengembangan potensi kader.
c. Melakukan pembinaan pengurus.
2. Bidang Syi’ar
Tujuan :
Meningkatkan pemahaman keislaman masyarakat kampus dan sekitarnya dengan memberdayakan potensi sumber daya yang ada.
Tugas :
a. Mengadakan kajian-kajian keislaman
b. Memakmurkan mushola dengan kegiatan keislaman
c. Memanfaatkan moment penting sebagai sarana mensyi’arkan islam
3. Bidang Humas
Tujuan :
1. Menjalin hubungan dan kerjasama yang harmonis dengan berbagai elemen bagi kelancaran dakwah di lingkungan kampus
2. Memberikan informasi yang mendukung perkembangan dakwah melalui berbagai media
Tugas :
a. Sub Bidang Hubungan Kelembagaan
Menyelenggarakan kegiatan yang menjembatani terjalinnya hubungan dan kerjasama yang harmonis dengan berbagai elemen baik intern maupun ekstern organisasi
b. Sub Bidang Informasi dan Komunikasi
Memanfaatkan dan mengembangkan media sarana informasi dan komunikasi keislaman.
4. Bidang Keputrian
Tujuan :
Meningkatan kualitas muslimah agar dapat beraktualisasi dan berperan sesuai dengan fitrahnya.
Tugas :
a. Sub Bidang Kajian
Mengadakan kajian yang berorientasi pada pembinaan dan peningkatan kualitas muslimah.
b. Sub Bidang Potensi dan kreativitas
Memfasilitasi, meningkatkan, menyalurkan kreativitas muslimah.
5. Badan Semi Otonom
Merupakan badan-badan kantong di bawah bidang/biro yang dibentuk sesuai dengan kebutuhan bidang/biro dan bertugas mendukung tugas bidang / biro
VII. STANDAR KEBERHASILAN PENGURUS
1. Pengertian
Merupakan target yang harus dicapai berdasarkan arahan kerja sebagai indikasi keberhasilan kinerja pengurus selama satu periode kepengurusaan.
2. Tujuan
Mengetahui keberhasilan kinerja pengurus selama satu periode kepengurusan
3. Standar Keberhasilan
a. Terlaksananya program kerja SALAM minimal 80 % dari yang direncanakan
b. Adanya partisipasi aktif kader dan respon positif dari masyarakat kampus dalam setiap kegiatan SALAM
c. Terlaksananya proses kaderisasi yang berkesinambungan (berjalan baik)
d. Adanya kerjasama dan komunikasi yang baik antar pengurus dan anggota SALAM.
VIII. STRUKTUR KEPENGURUSAN
PERSAUDARAAN ISLAM
FAKULTAS PETERNAKAN UNSOED
2005
I. MUQODIMAH
Persaudaraan Islam (SALAM) Fapet Unsoed sebagai salah satu organisasi yang mengemban misi dakwah untuk melaksanakan fungsi amar ma’ruf nahyi munkar, untuk itu diperlukan perencanaan dalam setiap langkah maupun kegiatannya sehingga lebih terarah pada pencapaian tujuan SALAM Fapet. Perencanaan langkah dan kegiatan dituangkan dalam Garis-garis Besar Haluan Kerja ( GBHK ) yang ditetapkan bersama dalam Musyawarah Anggota SALAM Fapet Unsoed yang kemudian dijabarkan dalam program kerja kepengurusan.
II. DASAR SYAR’I
a. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh pada yang ma’ruf dan mencegah pada yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung ( QS. Ali Imron : 104 )
b. Dan tolong menolonglah kamu pada kebajikan dan taqwa dn kamu jangan tolong menolong dalam perbuatan keji dan munkar, dan bertaqwalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Berat siksaNya ( QS. Al Maidah : 2 )
c. Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang berjuang dijalanNya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti bangunan yang kokoh
( QS Ash Shof : 40 )
d. Hai orang-orang yang beriman, bersiap-siaplah kamu ke medan juang berkelompok-kelompok atau majulah bersama-sama. ( QS. An Nisa : 71 )
e. Kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir. ( Ali Bin Abi Tholib )
III. DASAR OPERASIONAL
AD/ART Persaudaraan Islam (SALAM) Fapet Unsoed
IV. FUNGSI DAN TUJUAN
Memberikan pedoman, arah dan kerangka awal dalam perencanaan kerja dakwah kampus yang selanjutnya dijadikan sebagai alat evaluasi kerja kepengurusan.
V. POLA DASAR PENGEMBANGAN
1. Pengertian Pola Dasar Pengembangan
Pola dasar pengembangan adalah arahan umum SALAM Fapet Unsoed yang disusun untuk satu periode kepengurusan yang berpedoman pada visi, misi dan tujuan SALAM Fapet Unsoed.
2. Arah dan sasaran
Pencapaian tujuan dilakukan dengan penetapan tahapan penjabaran yang teratur, terarah dan istiqomah dengan adanya :
a. Perbaikan fungsi manejemen dan profesionalisme kerja organisasi.
b. Proses kaderisasi yang berkesinambungan.
c. Melakukan upaya peningkatan kesadaran dan pemahaman nilai-nilai Islam dengan lebih intensif terhadap masyarakat kampus
d. Penyebaran wacana keislaman yang berbasis kompetensi kepada masyarakat kampus.
VI. HALUAN KERJA
A. Pengurus Harian
1. Ketua Umum
Wewenang :
a. Membuat arahan umum pelaksanaan hasil Musang dan kebijakan yang berkaitan dengan organisasi.
b. Melakukan pemberhentian dan reshufle terhadap pengurus serta pengangkatan kembali pengurus baru dengan pertimbangan DPO dan pengurus
c. Mengangkat dan mencabut status keanggotaan atas pertimbangan bidang pembinaan dan kaderisasi.
Tugas:
a. Bertanggung jawab penuh terhadap jalannya organisasi.
b. Memimpin, mengkoordinasikan dan mengawasi gerak organisasi
2. Sekretaris Umum
Wewenang :
Sekum dapat menggantikan tugas ketua umum jika ketua umum berhalangan
Tugas:
a. Bersama-sama ketua umum merumuskan kebijakan organisasi.
b. Melaksanakan fungsi administrasi dan kesekretariatan untuk kelancaran organisasi.
3. Bendahara Umum
Wewenang
Mengelola keuangan organisasi
Tugas :
a. Menyusun sistem dan manajemen pendanaan oraganisasi
b. Bertanggung jawab dan mengelola arus keluar masuknya uang terutama iuran dalam organisasi
c. Melaporkan kondisi keuangan triwulan secara tertulis kepada pengurus
B. Biro-biro
1. Biro Kerumahtanggaan
Tujuan :
Memperlancar kegiatan-kegiatan kepengurusan SALAM yang berkaitan dengan kerumahtanggaan dan perpustakaan
Tugas:
a. Mengadakan, melengkapi, mengelola dan menginventarisir sarana-sarana organisasi.
b. Mengoptimalkan pengelolaan dan pengembangan perpustakaan.
c. Bersama sekum melaksanakan fungsi administrasi dan kesekretariatan
2. Biro Usaha Dana
Tujuan :
Mendukung kelancaran organisasi dalam hal pendanaan.
Tugas :
Mengusahakan sumber dana yang halal dan tidak mengikat guna kelancaran organisasi.
C. Bidang-bidang
1. Bidang Pembinaan dan Kaderisasi
Tujuan :
Membentuk pengurus dan kader dakwah yang memiliki pemahaman, loyalitas terhadap Islam yang tinggi sesuai dengan bakat dan potensinya melalui SALAM
Tugas :
a. Merekrut, mengarahkan, membina dan mengembangkan potensi kader secara ruhiyah, aqliyah dan jasadiyah serta melaksanakan pola kaderisasi secara efektif.
b. Memfasilitasi, menyalurkan minat, bakat dan kreativitas kader sebagai wahana pengembangan potensi kader.
c. Melakukan pembinaan pengurus.
2. Bidang Syi’ar
Tujuan :
Meningkatkan pemahaman keislaman masyarakat kampus dan sekitarnya dengan memberdayakan potensi sumber daya yang ada.
Tugas :
a. Mengadakan kajian-kajian keislaman
b. Memakmurkan mushola dengan kegiatan keislaman
c. Memanfaatkan moment penting sebagai sarana mensyi’arkan islam
3. Bidang Humas
Tujuan :
1. Menjalin hubungan dan kerjasama yang harmonis dengan berbagai elemen bagi kelancaran dakwah di lingkungan kampus
2. Memberikan informasi yang mendukung perkembangan dakwah melalui berbagai media
Tugas :
a. Sub Bidang Hubungan Kelembagaan
Menyelenggarakan kegiatan yang menjembatani terjalinnya hubungan dan kerjasama yang harmonis dengan berbagai elemen baik intern maupun ekstern organisasi
b. Sub Bidang Informasi dan Komunikasi
Memanfaatkan dan mengembangkan media sarana informasi dan komunikasi keislaman.
4. Bidang Keputrian
Tujuan :
Meningkatan kualitas muslimah agar dapat beraktualisasi dan berperan sesuai dengan fitrahnya.
Tugas :
a. Sub Bidang Kajian
Mengadakan kajian yang berorientasi pada pembinaan dan peningkatan kualitas muslimah.
b. Sub Bidang Potensi dan kreativitas
Memfasilitasi, meningkatkan, menyalurkan kreativitas muslimah.
5. Badan Semi Otonom
Merupakan badan-badan kantong di bawah bidang/biro yang dibentuk sesuai dengan kebutuhan bidang/biro dan bertugas mendukung tugas bidang / biro
VII. STANDAR KEBERHASILAN PENGURUS
1. Pengertian
Merupakan target yang harus dicapai berdasarkan arahan kerja sebagai indikasi keberhasilan kinerja pengurus selama satu periode kepengurusaan.
2. Tujuan
Mengetahui keberhasilan kinerja pengurus selama satu periode kepengurusan
3. Standar Keberhasilan
a. Terlaksananya program kerja SALAM minimal 80 % dari yang direncanakan
b. Adanya partisipasi aktif kader dan respon positif dari masyarakat kampus dalam setiap kegiatan SALAM
c. Terlaksananya proses kaderisasi yang berkesinambungan (berjalan baik)
d. Adanya kerjasama dan komunikasi yang baik antar pengurus dan anggota SALAM.
VIII. STRUKTUR KEPENGURUSAN

