Persaudaraan Islam . . .Allahu Akbar !!!

" Membina Generasi Robbani Ciptakan Kampus yang Sejuk Nan Islami "

Monday, December 26, 2005

pelabuhan Fajar

PELABUHAN FAJAR
Oleh : Cahyo Tri Panuntun



Waktu itu, entah hari dan tanggal berapa.
Aku memulai menapaki hari-hariku. Dengan beberapa litter bahan bakar, kukendarai perahuku, perahu mungil yang diberikan orang tuaku dengan izin-Nya, mengarungi samudera luas yang terbentang. Mencari dunia baru, dunia yang bisa memberiku kekayaan yang berlimpah. Bahan bakar yang banyak, atau perahu baru, bukan bukan, bukan perahu tapi kapal baru, yang lebih besar tentu, dan disertai perabotan yang wah dan modern, di dalamnya terdapat banyak makanan, tv, telfon, vcd, ac, dispenser, radio atau bolehlah kolam renang dan lain sebagainya. Tentu saja mencari hari yang baru, yang sebelumnya tidak pernah mampu terfikirkan olehku. Hari dengan ruang yang berbeda, suasana yang berbeda, kebiasaan yang berbeda, tingkah dan wajah yang berbeda, pakaian yang berbeda, bahkan bahasapun berbeda.
Setelah jauh ku laju perahuku, sampailah aku di sebuah kepulauan (kumpulan pulau). Dapat kulihat beberapa pulau, banyak. Menarik, indah dan tampak berpenghuni. Ada yang datang dan ada yang terlihat menjauh dari pulau-pulau itu. Tiba-tiba, wuuzzzzz. Banyak sekali perahu-perahu yang serupa denganku, saling berlomba, berkejaran, adu cepat, meliuk-liuk di hamparan samudera. Lebih-lebih lagi pengendara-pengendara perahu-perahuh itu. Ada si wah yang berperahu mewah dengan cat yang mencolok, ada si yahud yang meliku-liku menggoda, menaiki prahu mungil nan indah, ada si wow dengan perahunya yang besar dan mesin yang menderu kencang, tapi hey ada juga si yach yang mengendarai sebuah perahu bermerk sangat terkenal, merk “Apa adanya” memang sangat tenar di seluruh samudera ini, sangat banyak yang punya sehingga tak sulit menjumpainya. Begitu pula dengan milikku. Dan rata-rata itulah yang dimilki oleh penghuni samudera ini di manapun pulau yang ia tempati.
Terpaan angin semilir membuatku sedikit lalai. Hanya tertegun, berjalan lambat, dan terkesan ragu. Tidak seperti mereka yang telah weerrr siuut !! melewatiku. Aku masih terapung dalam ragu. Pulau-pulau itu sungguh menarik, kerlap-kerlip lampu berwarna-warni menghiasi, bagaikan pelangi pesolek langit. Lama aku tertegun, bingung tanpa pilihan. Semua pulau itu indah dan sangat berbeda dengan pulau tempat kutinggalkan. Sejenak kuhentikan laju perahuku mencoba berpikir cerdas. Akupun melihat beberapa kawan yang sama, persis. Ragu dan membayang masa depan yang belum pernah tergambar.

Di waktu itu, entah hari apa namanya.
Segala pujian hanya pada Tuhan Rabb semesta alam. Yang mencipta dan menguasa segala sesuatu yang ada di dalamnya. Yang telah menaklukkannya untuk manusia. Manusia yang sebenarnya sangat dhoif yang dikarunia sedikit saja ilmu dari-Nya. Akupun memutuskan untuk memilih dua pulau diantara kesekian pulau itu. Aku sadar tak mungkin semua terjangkau. Akupun mencoba mengerti, bahwa pulau-pulau itu adalah tempat untuk kami (pengendara perahu) dari manapun, untuk sekedar berlabuh, mengisi kembali bahan bakar dan mencari kekayaan yang kami butuhkan untuk kembali meneruskan perjalanan. Hanya sementara saja dan kami tetap akan pergi untuk menemukan pulau-pulau lainnya lagi.
Pilihanku adalah pulau yang tampak lebih rindang, hijau, sejuk dan damai. Pulau satu tidak banyak ada hiasan disana sini tapi aku bisa merasakan kehangatan salam ketika kudekati dan suasana yang damai ketika aku mencoba untuk duduk beristirahat sejenak. Menyandarkan tubuhku pada pohon besar yang menjulang tinggi dengan daunnya yang rindang. Sepoi-sepoi dapat kurasakan. Tapi aku segera tersadar, bukan hanya ini yang kuinginkan. Terlalu melenakan jika aku berlama di pulau baru ini. Maka aku pun mencari pulau lain untuk mendapatkan hal yang lain lagi. Rasanya ada satu lagi pulau yang menarik hatiku. Cukup meriah disana, banyak hal yang bisa kutemui. Persahabatan dan kerjasama juga bisa kudapati disini, ramah.
Maka hari haripun segera kulalui di dua pulau itu secara bergantian. Di sana aku belajar, mendapatkan pelajaran dan kadang mencoba mengajarkan. Aku diajari tentang berperang, aku juga belajar tentang membuat perahu, membersihkan perahu, mencari dan melengkapi kekayaan sendiri. Di sana pula ku di ajari berbicara, berteriak ataupun menangis. Cara mereka, metode mereka sendiri. Aku pun berusaha untuk mendapatkan apa yang mereka berikan. Baru sekedar itu, tak banyak yang bisa kuberikan.

Entah sudah hari keberapa dan apa nama hari ini.
Siklus senantiasa berputar. Ada yang datang dan pergi. Siang tak mungkin bersamaan dengan malam, kecuali di belahan yang berbeda. Ada yang belajar dan ada yang mengajarkan. Ada kalanya meminta dan kala lain dituntut untuk memberi. Pun terjadi di semua pulau. Wajar jika penghuni berganti penghuni lain, penghuni lama akan pergi, digantikan penghuni baru yang sudah sempat belajar. Penghuni baru di tuntut untuk mampu mengajarkan apa yang sudah di pelajari kepada calon penghuni yang lebih baru lagi hingga mereka mampu untuk menggantikannya. Penghuni akan menyiapkan penghuni pengganti. Singkat cerita, akhirnya akupun menyadari tidak mungkin aku akan terus berada diantara dua pulau itu. Itu membuatku kurang maksimal. Maka akupun harus memilih, memilih diantara dua pulau itu untuk lebih serius dan konsentrasi. Bukan hanya belajar tapi lebih banyak mengajarkan. Bukan mengajarkan, tapi mentransfer pelajaran yang telah kupelajari untuk diteruskan pada calon penghuni yang lain. Sepertiku tempo dulu.

Akupun memilih pulau.
Pulau yang lebih menarik hatiku. Karena disana ada pohon kedamaian, ada rumah-rumah kasih sayang, ada sawah persaudaraan yang luuuaaas, ada bukit-bukit toleransi. Ada juga gunung-gunung kebersamaan. Satu lagi, ada istana kekhusyuan, beratapkan istiqomah, berdindingkan komitmen, dan pintu gerbangnya berhiaskan tawadhu. (semoga tidak berlebihan)
Itulah pulau, yang aku telah menjatuhkan pilihanku untuk tetap disana (untuk sementara waktu) sampai akhirnya akan kutinggalkan lagi untuk mencari pulau lain. Pulau itu, memiliki nama yang sama dengan pelabuhannya. Pernah ke HOLLIWOOD ?. Ada tulisan besar di bukit, HOLLIWOOD. Nha di pulau ini juga ada tulisan besar, UNIT KEROHANIAN ISLAM.
Itulah awal perkenalanku dengan UKI. Ada banyak kesan yang saya dapatkan di sana. Keramahan pengurus-pengurusnya, perhatian yang mereka berikan, bantuan yang selalu siap sedia jika dibutuhkan, gambaran kegiatan yang lumayan menarik. Maka sejak tahun 2001 saya sudah memutuskan untuk menjadi pengurus UKI dan menolak tawaran untuk menjadi pengurus di UKM lain yang sejak awal juga saya ikuti. Bukan tidak tahu terima kasih dengan segala apa yang diberikan oleh UKM tersebut, tapi lebih karena saya tahu akan kemampuan yang saya miliki tidaklah cukup untuk menempatkan diri di dua UKM intra fakultas ini. Karena menjadi pengurus bukan hal yang sepele. Ketika saya masuk jadi pengurus maka secara otomatis saya mendapatkan tuntutan untuk berbuat lebih. Dan amanah itu menjadikan saya khawatir untuk meninggalkannya, karena saya yakin bukan hanya urusan dunia saja, diterima dan di tolak LPJ pengurus, tapi ada sesuatu hal yang lebih yaitu urusan dengan yang ngecat lombok (kata ibu), saya akan dimintai pertanggungjawaban ketika saya menerima amanah. Saya tidak bisa membayangkan ketika saya menerima banyak amanah, kemudian saya berjanji, berikrar untuk menjadi pengurus tapi kemudian saya tinggalkan begitu saja entah dengan alasan capek, sibuk, tidak bisa bagi waktu atau karena malas. Naudzubillahi min dzalik.
Resiko, ketika kita menerima amanah itu adalah melaksanakannya. Saya tahu akan kemampuan saya, tidak mungkin sanggup, maka dari awal saya harus memutuskan.
Ada alasan lain yang mendasari penolakan itu, karena ada keinginan untuk lebih di bidang yang lain, menjadi asisten praktikum, ingin aktif di orgasnisasi ekstra kampus, ingin ngaji di masjid dan lain sebagainya. Maka sayapun harus memutuskan. Prinsip: Ketika kita sudah berjanji maka tepatilah, ketika kita mengambil amanah maka pertanggungjawabkanlah dan ketika kita sedang berusaha maka bersungguh-sungguhlah. Firman Alloh “ Dan rang-oarng yang bersungguh-sungguh pada jalan kami, sungguuh akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Alloh bersama orang-orang yang berbuat kebajikan”.(QS Al ‘Ankabuut : 69)
Walaupun tidak semua harus seperti itu, mungkin ada yang lebih sanggup itupun tidak menjadi masalah.
Maka mulailah babak baru.
Saya menjadi pengurus UKI. UKM satu-satunya yang bergerak dibidang dakwah, UKM satu-satunya yang berani menjadikan ISLAM sebagai asas. Ditengah – tengah keengganan mahasiswa (islam) untuk berbicara islam apalagi berbuat sesuatu yang islami, tapi UKI berani menjnajakan memperdagangkan ISLAM. Walaupun saya tahu tidak mudah, dan saya tahu saya belum mempunyai cukup bekal untuk menjadi pengurus UKI, jika kita pandang dari segi idealita. Sering kita berpandangan pengurus UKI harus seorang yang sholeh dan sholihah, rajin ibadah, berjenggot dan berjilbab lebar, kening kehitaman, banyak hafalan, ilmu agamanya banyak, pandai berdakwah, selalu menjaga pandangan, dan lain-lainnya. Memang BENAR, semua syarat itu memang harus! Tapi jika tidak tersedia orang-orang yang memenuhi kualifikasi itu, apakah kita harus berdiam diri, minder, menunggu sampai ada malaikat-malaikat yang mau menjadi pengurus UKI?
Tidak, menurut saya. Dalam ketakutan saya, di sana ada harap dan janji, untuk memberikan yang terbaik. Dalam kesadaran akan keterbatasan kemampuan yang saya miliki, saya mencoba untuk menanamkan tekad: Berbuat optimal, memaksimalkan kemampuan yang minimal. Artinya apa? Cobalah untuk selalu memberikan yang terbaik, melakukan sesuatu yang paaaling maksimal dari kemampuan kita yang sangat terbatas dan berharap akan adanya manfaat yang datang akibat perbuatan kita. Kita merasa sedikit ilmu maka semua ilmu yang kita miliki itulah yang akan kita berikan. Karena setiap insan akan dimintai pertanggungjawaban sesuai dengan kemampuannya, ujian bagi masing-masing individu akan berbeda kadarnya jika dilihat dari luar tapi mungkin sama kadar beratnya bagi individu yang merasakannya.

Tahun 2001.
Saya menjadi ketua bidang dakwah. Saya mempunyai partner orang-orang hebat saat itu. Ketika itu jumlah kami dalam satu bidang ada 5 orang. Dua akhwat dan tiga ikhwan, masih sedikit. Dari sedikitnya jumlah personel, kami mempunyai tugas yang berat. Dari namanya saja kami punya persepsi, harus ada kegiatan-kegiatan yang sifatnya seremonial, kegiatan besar yang bisa lebih terlihat syiarnya. Cukup banyak yang harus kami kerjakan, mulai dari pemutaran film, kegiatan romadhon yang terkenal dengan SALAMKU (Nuansa Islam Ramadhan Kampus Ungu, seingat saya nama itu ditemukan saat kepengurusan ini), sampai yang namanya Desa Binaan. Ini adalah pengalaman pertama menjadi pengurus organisasi di Kampus. Bayangan saya, diawal kepengurusan, kami akan dapat melaksanakan tugas-tugas berat itu dengan baik, karena memang kami sendirilah yang menyusun dan semua terlibat.
Tapi, dalam proses selanjutnya menjadi berbeda dari permulaan kami. Banyak faktor yang kemudian menghadang kebersamaan kami, sehingga tim dakwah menjadi agak oleng. Bisa jadi karena kesibukan masing-masing personal sudah mulai terasa atau bisa jadi karena sang kabid sendiri yang tidak bagus dalam mengelola dan memenej partnernya, sehingga tidak ada motivasi, tidak ada kontrol dan tidak ada saling mengingatkan. Tapi ta apalah, semua masalah itu bisa dimaklumi. Ada carita lebih seru lagi saat kepengurusan ini. Kegiatan Desa Binaan. Kegiatan baru yang sebelumnya belum pernah dilaksanakan oleh UKI, bukan desa binaannya, tapi kegiatan awalnya. Maksudnya, tim dakwah memutuskan untuk melaksanakan bakti sosial sebelum kita melaksanakan deesa binaan. Baksos adalah untuk menarik simpati dari masyarakat, dan jika hati mereka sudah kita dapatkan, maka akan mudah jika mau dilanjutkan ke desa binaan. Banyak kegiatan yang direncanakan. Mulai dari kegiatan untuk anak-anak, remaja putri, ibu-ibu dan bapak-bapak. Seperti biasa kami akan membentuk panitia terlbih dahulu. Kamipun mengundang anggota UKI untuk dibentuk panitia Baksos. Saat itu ada yang datang lumayan 3 orang. So, ,otomatis mereka jadi ketua panitia, sekretaris dan kesekretariatan. Singkat cerita, panitia tidak berjalan sesuai apa yang diharapkan. Sehingga, kami dari pengurus sendiri yang harus menyiapkan segalanya, mulai dari survei lokasi, surat izin, nglobi kades, mengonsep acara, mempublikasikan ke desa, mengumpulkan para pemuda desa, menghubungi kepala dusun-kepala dusun, mencari barang-barang untuk pasar murah, mencari sponsorship kegiatan, mencari ustadz untuk ngisi pengajian, mencari donatur, membuat proposal dan lain sebagainya. Alhamdulillah bukan hanya tim dakwah saja tapi ada bantuan dr pengurus bidang lain. Saat itu saya ingat, persiapan baksos adalah sewaktu di kampus ada ujian sisipan, pantas saja tidak ada anggota yang mau kerja. Mereka memilih untuk belajar. Pernah suatu malam, saya harus ke desa mengikuti pertemuan RT untuk sekaligus mempublikasikan kegiatan baksos. Saya pulang dari desa jam 11 malam, pada hal besoknya saya ujian. Bukan berarti saya pandai sehingga tidak usah belajar, tapi itulah yang saya sebut dengan tanggung jawab, memenuhhi amanah dalam kondisi berat sekalipun. Waktu berjalan, semua panitia (pengurus) mampu bekerja dengan optimal sehingga tibalah saat pelaksanaan. Alhamdulillah banyak bantuan datang saat itu, proses yang kami lakukan mendapat respon yang baik dari masyarakat. Anggota pun banyak yang membantu. Dan kegiatanpun sukses. Ada suatu hikmah lagi dalam kegiatan ini yang bisa kita ambil. Pertama yakinlah, Intanshurulloha yanshuurkum, jika kita mau menolong (berbuat dan berusaha untuk) Alloh, maka Dia akan menolong kita. Kedua, dalam posisi apapun kita harus berusaha maksimal, sebagai pengurus harus selalu memantau kegiatan dan sebagai panitia harus pula melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya. Ketiga, yang namanya dakwah memang berat dan begitu panjang, apa yang diusahakan saat ini, sekarang mungkin anak cucu kita yang akan menikmati. Saya pernah mengeluh dan seorang sahabat mengatakan, tidak banyak yang kuat memikul beban berat dakwah ini, dan tidak banyak yang mampu melalui jalan panjang dakwah. Itulah yang selalu terngiang. Akhirnya kitapun mendapat respon yang baik dari masyarakat yang selalu minta kita untuk aktif di sana, setelah proses yang bagiu berat kita lalui. Alhamdulillah...

Tahun 2002.
Saya masih dipercaya menjadi pengurus setelah kekurangberhasilan saya menjadi ketua bidang. Tapi saat ini saya hanya menjadi staff bidang. Bidang yang lebih berat lagi dari segi konsepsi, Bidang Kaderisaasi. Tapi sayapun merasakan pengalaman yang berbeda lagi, dalam kondisi yang berbeda dan beban yang berbeda pula, lebih berat. Bidang ini di pasrahi tugas untuk membuat metode pengkaderan. Mulai dari rekruitmen sampai penjagaan anggota, bidang ini yang bertanggungjawab lebih besar. Karena ketersediaan kader menjadi suatu keniscayaan dalam organisasi apapun. Total tim kaderisasi saat ini adalah 8 orang, jumlah yang cukup banyak dedngan komposisi 3 akhwat dan 5 ikhwan. Sungguh luar biasa, di sinilah saya merasakan ukhuwah, persahabatan dan persaudaraan yang sebenarnya. Kerjasama atau team work yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Saat ini lebih capek, saat ini lebih pusing, saat ini ada kecewa, saat ini ada marah, saat ini juga ada tangis, tapi saat ini penuh dengan kerinduan, saat ini penuh dengan bahagia, saat ini penuh dengan keterbukaan, saat ini pula penuh dengan persaudaraan. Lumayan menarik bagi saya, kita dari awal sudah berkomitmen, untuk senantiasa bekerjasama. Maka, rapatpun rutin tiap minggu sekali walau ga tau apa yang dah dihasilkan, tidak datang rapat kenakan iqob (denda) mbayar 2000 rupiah atau membuat tulisan tentang apapun yang nanti bisa di bacakan saat rapat atau di tempel di mading. Ada lagi, kita bersepakat untuk membuat suatu media yang bisa kita gunakan bersama untuk berdiskusi, curhat or sekedar ngasih informasi secara informal. Jadilah email bersama yang ID dan passwordnya diketahui bersama, skr sudah menjnadi umum milik UKI kaderisasi_uki@plasa.com, password kaderisasi. Di kaderisasi, banyak hal yang dilakukan karena memang itu harus dilakukan, sekali lagi itu menjadi bagian dari tanggunngjawab. Mbahas masalah kader dari masalah pribadi sampai organisasi, begitu pula kamipun tidak jarang membicarakan (bukan ghibah) kasus-kasus yang terjadai di kepengurusan, dari keorganisasian sampai masalah personal. Wow ...! begitulah karena kita sudah menyadari tugas kami itu dari awal, kaderisasi itu tempat yang membuat kita pusing, mumeti dan mengesalkan sekaligus menyenangkan.
Ada satu cerita. Ketika itu, ada kegiatan LKI 1, kami menyiapkan segalanya, mulai dari konsep, proposal dan membentuk panitia (dari pengurus). Tapi apa dikata, pesertanya tak kunjung merespon, ada hanya sedikit. Dada kami sesak, hati sakit, mata menjadi panas, ah kecewa juga, khawatir dan hampir PUTUS ASA. Kemudian kami konsolidasi khusus internal kaderisasi tanpa melibatkan panitia yang lain, saat itu sang koordinator J menginginkan di batalkan atau ditunda saja. Dengan bermacam argumentasi tentu, nalar. Tapi tidak berhenti begitu saja, penolakan terluncur dari perasaan tajam akhwat, sudah dipersiapkan dan dipertimbangkan masak-masak kenapa harus ditunda kata mereka yakin. Akhirnya kami bersepakat, sekarang bukan saatnya untuk mengeluh apa lagi melenguh (hmooo), tapi bagaimana solusinya. Disepakati, kita akan hunting peserrta, so pembagian tugaspun dilaksanakan. Siapa ngapain dan kemana, semua dapet tanpa ada yang kelewatan. Karena itulah perjuangan dan pengorbanan yang kami harapkan nantinya menjadi pemberat timbangan amal kebaikan. Di sana nanti. Dan kegiatanpun sukses, menurut penilaian kami sendiri. Hmmm
Ada hikmah disana. Pertama, jangan ada kata PUTUS ASA! Dalam setiap episode kehidupan kita pasti ada yang namanya rintangan, jadi tetap TEGAR menjadi pilihan terbaik yang harus kita lakukan. Kedua, memang harus ada MOTIVATOR dalam setiap perjalanan yang kita tempuh, sang akhwat yang bisa ngasih semangat untuk terus maju misalkan. Ketiga, dalam menghadapi masalah bukan kata MUNDUR yang selayaknya lebih kita percayai, tapi mencari jalan keluar / SOLUSI untuk memecahkan problem yang ada lebih baik untuk dilakukan
SALAM MANIS UNTUK KALIAN, TEAM KADERISASI PERIODE 2002/2003. KEEP FIGHT ! ISTIQOMAH.

Tahun 2003
Masih juga dipercaya menjadi pengurus UKI. Tapi ini mungkin the last time. Dah ngepol, menuju puncak kata akademia AFI (Akadedmi Fantasi Indosiar). Jadi DPO, sangar tenan. Ada berbeda kisah lagi di DPO ini. Yach, walaupun tidak seseru waktu masih muda dulu. Karena yang ada di DPO itu ya orang-orang tua semuanya, istilah kerennya angkatan sembilan tua. Bahkan saat pemilihan, ada anggota DPO yang sudah mewanti-wanti “saya mungkin tidak akan bisa full”. Yaa intinya akan segera lulus. Dan benar saja sampai saat musang DPO resmi yang tersisa ada 3 orang dari 6 orang yang terpilih. Yang lain dah lulus (jadi malu saya kalo bicara lulus).
Kalo biasanya, di kepengurusan sebelumnya DPO jarang keliatan dan ngumpul, tapi di kepengurusan ini Alhamdulillah sama saja ..eh... lumayan sering ngumpul, karena semua anggotanya semangat. Saya hanya menjadi bagian yang kecipratan -bahasa Jermannya- semangat itu. Evaluasi-evaluasi sampai mencari solusi dari permsalahan-permasalahan yang kami dapatkan di kepengurusan. Kemudian kamipun mencoba memberikan saran kepada pengurus. Lumayanlah, cukup banyak atau beberapa sajalah saran yang dapat kami sampaikan ke pengurus walaupun lebih sering di tolaknya. InsyaAlloh kami cukup solid. Semoga ini juga karena paham dengan kata kunci TANGGUNG JAWAB.
Akhirnya kepengurusanpun berakhir. Kami cukup bahagia dan bangga dengan kepengurusan ini. Untuk menunjukkan kebahagiaan kami tersebut, maka kami ingin meninggalkan sesuatu –yang semoga berguna- bagi UKI kami cinta. Hanya tulisan-tulisan kecil yang sekarang ada ditangan antum.

Dan sekarang
Akupun meninggalkan pulau itu, lewat pelabuhan yang sama. Tapi ada yang berbeda. Aku datang dengan perahu kecil, bahan bakar yang sedikit dan kekayaan yangterbatas. Kini aku pergi dengan perahu baru, bukan, lebih dari perahu tapi kapal. Kapal itu bernama kedewasaan, bahan bakarnya adalah istiqomah. Terbuat dari bahan-bahan yang kuat yaitu tanggungjawab. Kekayaan melimpah, ada persaudaraan, keikhlasan, kebersamaan, pengalaman, semangat, toleransi, keceriaan dan banyak lagi.
<>
Dan bagi antum saudaraku fillah, yang sekedar kenal, yang sempat akrab, dan yang sama sekali tidak mengenal saya. Ada pesan untuk antum, yaitu jangan ada ketergantungan tapi jangan tanggalkan kecintaan. Apa dan kenapa jangan ketergantungan? Ketergantungan –pada siapapun juga- hanya akan menyebabkan kelemahan dan keruntuhan kepercayaan diri. Ketergantungan –kecuali kepada Alloh- hanya akan menghalangi kemandirian. Ketergantungan hanya akan menyebabkan lambatnya proses kedewasaan. Apa dan kenapa jangan tanggalkan kecintaan? Karena deengan cinta akan semakin menguatkan persaudaraan. Dengan cinta akan mengokohkan ikatan. Dengan cinta akan membuat kita saling melengkapi. Kita hanya saling membutuhkan bukan ketergantungan, karena kita hanya manusia biasa.
Wallohu a’lam bishshowab.
penulis adalah
presiden BEM fapet Unsoed Periode 2003-2004
Kaderisasi UKI fapet 2002-2003
kaderisasi UKKI Unsoed 2003-2004

2 Comments:

  • At 7:53 AM, Blogger fuad rosyadi said…

    assalamualaikum wr wb
    ane inget bener ma mantan presiden BEm ini yang waktu kampanye fotonya dipasang pake sragam perwira,he3x
    masih puitis juga ente ya,
    btw antum belum crita tentang adanya gap dengan pembina rohis sampe akhirnya pembina nya ada 2 ? critain ma adik2 dunk. :)

     
  • At 8:07 AM, Blogger fuad rosyadi said…

    panjang banget tulisan nya yo, itu aja belum ditulis smw ya,, coba critain juga tentang perjuangan anak2 rohis mengagendakan dawah lewat BEM pasti pegel neh baca tulisan antum he3x
    email ya kalo baca koment ane,abu.rusydi@yahoo.com / bryanrosyadi@yahoo.com

     

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home